Travel and Lifestyle by Diana Putri Maharani

, ,

Ada Apa dengan Desa Terunyan? | Edisi Pelayanan Kesehatan Gratis


Awalnya, gue menganggap ikut acara pengabdian masyarakat ini merupakan sebuah kutukan dan gue bener-bener apes banget harus ikut acara beginian. TERPAKSA BANGET MENNN!!! Karena gue butuh sertifikat sebagai bukti bahwa gue udah ikut pengabdian masyarakat biar gue bisa yudisium. Di kampus gue, salah satu persyaratan untuk ikut yudisium adalah harus punya minimal 2 sertifikat pengmas (pengabdian masyarakat) besar. Ada dua kategori pengmas di kampus gue, yaitu besar dan kecil. Kalo yang besar berarti gue harus ikut pengmas 2 hari 1 malam. Kalo yang kecil, pengmasnya cuma 1 hari doang. Dan karena gue baru punya 1 sertifikat, sedangkan gue udah semakin masuk semester tua, maka dengan tekad yang setengah-setengah gue ikut acara ini.

Untungnya, gue gak sendirian dari Fisioterapi. Ada 3 temen gue yaitu Bella, Chika, sama Bethari. Kalo Bella sama si Chika sih sama nasibnya kayak gue hahaha. Kalo Bethari sebenernya udah cukup bekalnya buat yudisium, entah deh apa maksudnya dia ikutan pengmas lagi. Lagi kurang kerjaan kali hahaha. Dan sebenernya, kita cukup shock ketika tau bahwa dari fisioterapi yang ikut cuma 4 orang doang. Gila kali ya? Ntar kalo pasiennya banyak mau gimana dong kita? Apalagi fisioterapi butuh waktu gak sebentar buat satu pasien. Ditambah alat yang bisa kami bawa nantinya cuma Infrared doang, sisanya pake kekuatan tangan ajaib. Tapi kami akhirnya bisa tenang setelah dikasih tau pembimbing, kalo misalnya dapet pasien yang gak memungkinkan untuk ditangani dengan IR sama manual therapy, yaudah rujuk aja ke dokter wkwkwkwk. Oke, akhirnya kami tenang.

Kami semua gak tau kalo sebenernya pengmas nanti bakal diadain di Desa Terunyan. Ketika kami tau kami bakal ke Desa Terunyan, kami cuma bisa bilang APAAAAAAAAAA, lalu kemudian sejuta imajinasi langsung muncul dibayangan kami, apalagi gue. Kalian pernah denger kan namanya Desa Terunyan? Yup! Desa ini terkenal banget sama tradisi kuburannya, yaitu mayat orang yang meninggal hanya diletakkan di bawah pohon suci dan ajaibnya mayat tersebut tidak menimbulkan bau seperti mayat pada umumnya. Nah, gue sih aslinya seneng pake banget! Asyiiikkk!!! Gue seneng karena selain ngelakuin pengabdian masyarakat, gue bakal jalan-jalan di sana. Karena kalo lu tau, buat menuju desa itu bukanlah hal yang mudah. Banyak yang bilang kalo mau ke Trunyan itu mahal pake banget, apalagi buat nyebrang danaunya. Sedikit info juga, sebenernya desa ini sudah di cap jelek banget sama wisatawan lokal maupun interlokal karena konon katanya mereka bagaikan diperas di desa ini. Singkat ceritanya begini, banyak dari mereka ketika ingin menyeberang, mereka akan melakukan tawar menawar harga transportasi. Misalnya aja harga sepakat 300-500ribu. Akhirnya menyeberanglah mereka. Namun, ketika di tengah-tengah danau, supir perahu dengan liciknya mematikan mesin dan beralasan bahwa bensin perahu habis. Dan mereka akan memberikan pilihan kepada wisatawan, kalo ingin melanjutkan perjalanan maka wisatawan harus membayar lagi sesuai dengan jumlah yang diminta. Kalo gak mau, wisatawan akan diturunkan di tengah danau. Nah lho?? Secara terpaksa lu bakal menuruti apa yang mereka minta kan? KONON, kisah-kisah seperti itulah yang membuat wisatawan sekarang enggan untuk mengunjungi Trunyan. Ada kabar lagi kalo sebenernya untuk menuju kuburan itu gak perlu menyeberangi Danau Batur. Sebenernya ada jalan darat untuk menuju ke sana. Tapi, menurut kebanyakan cerita yang gue dengar, jalan darat itu sengaja ditutup oleh warga setempat, agar wisatawan menggunakan perahu untuk menuju kuburan itu. Nah, apakah itu benar? Mari kita buktikan bersama hahaha.

Pagi hari ketika mau berangkat, gue bener-bener excited banget dan gak sabar buat menelanjangi Desa Terunyan serta pengen memecahkan berbagai anggapan negatif yang sudah tersebar di kalangan wisatawan. Gue kumpul di kampus, dan dari kampus gue dan rombongan naik angkot. Awalnya gue bingung banget, ini yakin kita bakal ke Terunyan naik angkot? Secara buat ke sana itu harus melewati jalan kelak kelok dan naik turun. Awalnya gue sempet khawatir, but it's okay, lets do this!

Perjalanan dari Denpasar ke Desa Terunyan setelah dihitung menghabiskan waktu 2 jam. Kalo mau ke Desa Terunyan, kalian harus menuju ke Danau Batur di Kintanami. Setelah kalian sampai di Danau Batur, maka akan ada banyak sekali petunjuk arah yang bisa mengarahkan kalian ke Desa Terunyan. Dan terjawablah sudah keheranan gue kenapa panitia menyediakan angkot sebagai transport kami ke Terunyan. Jalan menuju Desa Terunyan AMAT SANGAT SEMPIIIITTTTT dengan dihimpit sawah atau kebun kadang juga pasangan tebing jurang di kanan kirinya. Jalan itu pun cuma bisa dilewati oleh satu mobil selebar angkot. Gue gak bisa bayangin gimana caranya kalo sampai ada mobil dari arah sebaliknya. Mungkin kalo kalian kesini gue saranin buat naik motor aja. Dan memang benar jalanannya naik gunung bahkan bisa sampe kemiringan 50-60 derajat *cepetan ambil busur biar lu tau semiring apa*. Kalo lu pernah lewat jalanan di Tawangmangu atau di Pujon Malang, maka dua jalan itu belum ada apa-apanya dibandingkan jalan ke Terunyan ini. Ini bener-bener miring bangeeettt!!! Kami aja di dalam angkot harus siap sedia megangin tas, kerdus obat-obatan, dll biar gak pada jatuh. Walaupun rada takut, tapi pemandangan Gunung Batur yang luar biasa keren dan terus keliatan sepanjang jalan bisa mengalihkan rasa takut kami. Sayangnya, gue gak ambil foto maupun video saat perjalanan karena fokus jagain barang-barang hahaha. So sorry...

Ketika angkot berhenti, kami sedikit bertanya-tanya. Ini udah sampai belum ya? Dan ternyata sudah hahahaha. Akhirnya turunlah kami. Awalnya gue bingung. Kami emang udah sampai di Desa Terunyan, gue juga udah liat ada tulisan yang intinya ngasih tau kalo gue emang udah di Desa Terunyan tapi kok kami gak nyebrang danau ya? Dan kata panitia, memang kami gak perlu nyebrang danau. Dan gue bertanya-tanya lagi, dimana letak kuburan yang melegenda itu? Karena gue harus berkemas dulu, gue memutuskan untuk mencari tau jawabannya nanti. Kondisi Desa Terunyan gak beda dengan desa-desa yang lain. Desa ini ternyata sangat kecil. Kalo dibandingin sama komplek perumahan gue di Madiun sih jelas masih gede komplek perumahan gue. Dibandingin sama sekolah SMA gue aja masih gede SMA gue. Dan seperti foto diatas, kayak gitulah penampakan desa ini. Mobil biru itu adalah angkot yang kami naiki. Enak banget desa ini, view nya langsung di pinggir danau dan Gunung Batur.

Kami bakal tidur di SDN 1 Terunyan dan besok bakal ngadain pelayanan kesehatan gratis di balai desa. Kegiatan hari ini adalah kami door to door ke rumah penduduk untuk melakukan penyuluhan kesehatan mengenai hipertensi (tekanan darah tinggi) dan osteoarthritis (rematik). Dan betapa kagetnya gue ketika gue tau bahwa masih ada sebagai penduduk di desa ini yang gak bisa baca tulis bahkan ada yang gak percaya sama tenaga kesehatan seperti dokter. Lebih kagetnya lagi ketika mereka gak ngerti tentang apa itu hipertensi dan akibat dari hipertensi. Karena mereka cenderung membiarkan sakit yang mereka rasakan. Dekat dengan desa ini memang sudah ada puskesmas meskipun harus ditempuh sekitar 1km dan sudah ada praktek perawat. Namun, penduduk gak akan pergi ke puskesmas kalo mereka rasa penyakit itu masih biasa aja. Bahkan mereka pun masih belum bisa memberikan kepercayaan dengan perawat yang membuka praktek di desa ini. Yang bikin gue gak habis pikir, masih ada keluarga yang BAB di sembarang tempat. Hahahaha -____- Gue masih gak percaya, kalo desa yang digaung-gaungkan memiliki potensi wisata berstandar internasional masih *maaf* setertinggal ini. Ketika kami memberitahu bahwa besok akan ada pelayanan kesehatan gratis, mereka pun menjawab tergantung dari kepala desa. Kalo kepala desa menyuruh mereka datang, maka mereka akan datang. Oke baiklah, terserah aja deh pak bu mau gimana -_-

Ketika sore menjelang dan udah waktunya mandi, gue ragu mau mandi. Karena kamar mandi di SD benar-benar jorok pake banget gak layak banget pokoknya dan gak ada air zzzzz -____- Sempet gue berniat buat gak usah mandi, lagipula udara di sini udah dingin dan gue gak berkeringat. OKE FIX GUE GAK MANDI SAMPE BESOK!

Karena gue sama temen-temen udah berniat gak mandi, akhirnya kami sempatkan buat beli makanan, karena kami lapar. Karena takut sama makanan sini yang mengandung babi dsb, kami memutuskan buat beli pop mie di sebuah warung yang jaga nenek-nenek. Ya ampuuunnn, super duper susah ngomongnya karena warga sini kebanyakan masih pake bahasa daerah bali dan gak ngerti bahasa indonesia, sedangkan kami semua gak ada yang bisa bahasa bali. Oke, fine, bahasa tubuh pun kami keluarkan.

Pop mie disini terhitung cukup mahal dengan satu porsi dihargai 8000, padahal di kantin kampus gue yang gue anggap mahal, harganya aja gak sampe segitu. Tapi berhubung kami laper yaudah lah daripada ribut. Sambil makan pop mie, gue sambil ngelihat-lihat pemandangan. Desa ini sebenarnya masih sangat tenang. Cocok banget kalo lu mau cari ketenangan di sini. 180 derajat sangat berbeda dengan kota. Penduduk di sini sebenernya ramah dan awalnya memang menatap kami dengan penasaran ketika pertama kali kami sampai. Namun, ketika mereka tahu bahwa kami dari Kota Denpasar dan mahasiswa kedokteran, mereka langsung tersenyum dan menyambut kami dengan ramah. Tapi, sampai sekarang, gue belum bisa menemukan keberadaan kuburan legend itu karena gue keterbatasan bahasa untuk ngomong pake bahasa bali.

Setelah selesai makan pop mie, kami pun memutuskan untuk menikmati pemandangan di pinggir danau. Dan seperti biasanya, karena gue sukanya jelalatan, gue pun menikmati pemandangan sekaligus memperhatikan penduduk-penduduk di desa ini.

Pemandangan Gunung Batur

Sebagian besar mata pencaharian penduduk di desa ini adalah nelayan dan petani. Bisa dipastikan bahwa penyakit yang akan sering dikeluhkan adalah nyeri lutut atau punggung. But, kita liat aja gimana besok hahaaha. Setiap harinya, hampir semua warga menikmati makanan berupa ikan yang mereka dapat dari danau. Tadinya gue sempet liat bahwa ikan yang mereka tangkap itu adalah jenis ikan nila tapi ikannya kecil-kecil dan kurus banget. Beda banget kayak selama ini gue makan nila. Seenggaknya belum pernah gue makan ikan nila sekecil dan sekurus itu. Sayangnya gak gue foto karena gue gak enak sama penduduknya hahaha.

Ironisnya, sepertinya gue bilang, ikan nila itu di dapat dari Danau Batur, yang merupakan tempat mereka buang sampah dan tempat anak-anak mandi -_- Gue pun juga sempat melihat anjing buang air di danau itu. Bisa ngerti kan apa kan gue anggap ironis?

Sampahnya aja dibuang ke danau :(

Anak-anak Desa Terunyan mandi di danau. Bahkan orang tua mereka yang menyuruh mereka mandi di danau.
Namun, dibalik semua keironisan desa ini, seperti yang gue sempet singgung, desa ini sebenernya desa yang indah banget. They have an amazing view! Danau dan gunung, WOW! Ini yang bikin gue betah di desa ini dan gue anggep ini sebagai nilai plus dari desa ini. Walaupun desa ini punya pemandangan yang luar biasa, tapi desa ini bukan desa wisata. Karena kalian gak akan menemukan satu pun penginapan, sejelek apapun penginapan itu. Jadi, gue merasa beruntung gue bisa berada di desa ini.

Sambil menikmati desa ini, ada anak-anak ngehampirin gue. Karena gue dasarnya suka anak-anak, akhirnya mereka gue ajak ngobrol. Untungnya, mereka fasih bahasa indonesia. Ya iyalah, di sekolahnya pasti diajarin bahasa indonesia dan mereka nantinya pasti juga bakal menghadapi ujian nasional bahasa indonesia -_- Anak cewek yang gue ajak ngobrol itu namanya...... Ah gue lupa! -_- Penyakitnya gue kumat, gampang lupa nama orang hahaha. Tapi dia kelas 5 di SDN 01 Terunyan, tempat gue bermalam. Dari dia lah gue akhirnya tau di mana letak kuburan legend itu. Prinsip gue adalah, anak-anak selalu berkata jujur dan apa adanya.

Jadi, kuburan legend itu gak ada di desa yang sedang gue injak ini. Kuburan itu berada di balik bukit dan kalo ke sana harus naik perahu. Ada dua pilihan perahu yaitu perahu dayung dan perahu mesin. Kalo perahu dayung harganya 500ribu, kalo perahu mesin bisa 800-1 juta rupiah. Kuburan yang letak di balik bukit itu adalah milik Desa Terunyan. Dan setiap penduduk Terunyan yang meninggal, akan di bawa ke sana. Ia sendiri gak tau di bawa pake perahu atau gak karena ia sendiri belum pernah kesana -_________- Padahal dia yang penduduk asli desa situ. Katanya, perempuan dari Desa Terunyan gak boleh berkunjung ke makam itu entah apa alasannya dia juga gak tau. Ya maklum namanya anak-anak hahaha. Dan sebenarnya memang ada jalan darat menuju kuburan legend itu tapi anak itu juga gak tau, dia bilang kalo orang tuanya ngasih tau dia jalan darat nya itu masuk hutan. Dan kalo ditempuh jalan kaki cuma 30 menit aja. Yang masuk hujan sih gue rada gak percaya ya hahaha. Ya namanya anak-anak, mereka pasti hanya mengimitasi apa yang dibilang orang tuanya. Tapi kalo ada jalan darat gue emang percaya banget. Karena setelah gue amati sewaktu door to door ke rumah penduduk, gue melihat ada jalanan di perbukitan di atas, yang bisa dilewatin mobil dan jalanannya beraspal. Gue bisa liat itu, karena gue denger ada banyak suara kendaraan dan mereka jalan dengan mulus-mulus aja. Tapi gue gak bisa nemuin jalan menuju jalan raya itu. Jadi entah, kendaraan-kendaraan itu datang dari mana gue juga gak tau.

Dan jangan harap ketika lu mengunjungi kuburan itu, lu bakal bisa nginep sehari dua hari di sana. Karena di sana gak ada penginapan satu pun. Kalaupun lu mau mengunjungi desa yang deket dengan kuburan itu, desa terdekat pun lokasinya masih jauh dari kuburan itu. Sepanjang hari ini pun gue gak ngelihat ada wisatawan yang datang untuk mengunjungi kuburan itu. Tapi tadi ada satu keluarga, naik mobil, kelihatan banget dari kota, mereka datang sekitar jam 4 sore dan mereka ingin mengunjungi kuburan itu. Gue pun waktu itu iseng tanya ke ibu-ibunya berapa harga naik perahu dayung. Ibu itu menjawab 500 ribu. Sebenarnya, dari wajah ibu-ibu itu udah kelihatan kalo sebenarnya dia ragu mau ke sana. Ditambah dia tanya ke gue, di kuburan itu rame gak, ada wisatawan lain apa gak, gelap apa gak. Nah gue harus jawab apa dong? Tapi, sampe gue pulang, gue gak ngelihat rombongan ibu-ibu itu balik dari kuburan. Semoga mereka selamat hihihi.

Kuburan yang terkenal itu ada di balik bukit itu
Perbukitan yang mengelilingi Desa Terunyan. Di antara bukit itulah gue lihat ada jalan raya.

Selain itu, gue juga tanya sama anak itu tentang toilet. Kan gak mungkin juga gue ikutan pipis di danau ada pipis di sembarang tempat -_____- Dan ternyata ada salah satu rumah warga yang mendirikan toilet umum dan itu bersih banget. HOREEEEE!!!!!!!!!!!!! Gue sangat berterima kasih sama anak itu buat infonya, karena pada akhirnya gue dan temen-temen gue pun mandi juga.

Beberapa rumah warga yang menyediakan warung dan juga toilet umum
Tapi, toilet umumnya juga mahal banget harganya. Pipis 2000, mandi 3000. Kalo mandi okelah 3000. Lha kalo pipis? Jadi kalo lu lagi anyang-anyangan jangan dateng ke sini. Ntar lu bangkrut gara-gara keseringan bolak balik ke kamar mandi.

Segar habis mandi, kami pun balik buat istirahat di SD. Dan perlu kalian ketahui, di desa ini sinyal susah banget buseeeetttttttt -__________________-" Berasa lagi di tempat paling terpencil aja nih gue -_- Tapi menurut info sih memang desa ini masih termasuk salah satu desa yang terpencil dan terpelosok. Satu lagi, karena desa ini deket gunung, maka kalo malam hari dinginnyaaaaaaaaaaaaa........... Gue yang pake jaket, selimut, kaos kaki aja masih kedinginan.

Esok paginya, saatnya memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi warga. Banyak dokter umum, dan dokter spesialis datang membantu kami memberikan pelayanan kesehatan. Datang juga pembimbing kami Kak Trisna. Gue bersyukur hahaha. Senggaknya, Kak Trisna bisa bahasa bali wkwkwk. Oya, karena dinginnya desa ini bahkan sampe jam 9 pun dinginnya masih menusuk tulang, gue pun memutuskan untuk gak mandi.

Dan ketika pelayanan kesehatan dimulai, JENG JEEENGGGG!!!! Yang dateng banyak amat -___- Bahkan sebelum pelayanan kesehatan dibuka pun udah banyak yang antri. Ketika ada pasien yang dirujuk ke fisioterapi oleh dokter, awalnya masih Kak Trisna yang megang. Karena kami masih gak ngerti sama bahasanya. Tapi gue berusaha untuk menyerap dan mengerti apa yang mereka omongkan. Akhirnya lama-lama gue bisa sedikit-sedikit bahasa balinya hahaha. Semacam kayak "TEN DADOS" yang artinya nggak boleh. Jadi gue bisa ngasih edukasi ke penduduk tentang apa yang boleh mereka lakukan dan apa yang gak boleh mereka lakukan.




Di luar dari ekspektasi gue, penduduk di desa ini punya penyakit yang beragam walaupun kebanyakan sakit punggung dan lutut akibat kurangnya pengetahuan mereka mengatur postur tubuh saat mereka bekerja. Tapi, dari sini gue banyak belajar penyakit-penyakit yang belum pernah gue tanangi sebelumnya. Dan gue yang tadi ngerasa terkutuk karena harus ikut pengmas ini, sekarang ngerasa kalo gue bener-bener beruntung banget bisa ikut pengmas di sini karena gue dapat banyak ilmu-ilmu baru. Ilmu ketika praktek rasanya jauh lebih greget daripada ilmu ketika hanya sekedar teori.

Pasien cukup banyak, sampe kami kelawahan bahkan kami sempet menolak rujukan dari dokter karena terbatasnya waktu. Tapi kami senang dan sebenarnya cukup sedih ketika kami harus meninggalkan desa ini hahaha betah ya akhirnya? Iya betah banget :) Siapa sih yang gak betah dengan suasananya yang tenang dan damai, pemandangannya yang indah, dan penduduknya yang ramah? Bye Terunyan, terima kasih sudah membuka pandangan gue tentang desa ini, makasih udah memberikan gue banyak pelajaran hidup dan pastinya gak bakal gue lupain. Gue pun sempet kepikiran tahun depan mau ikut pengmas di Terunyan lagi. Mungkinkah? :)
Share:

No comments:

Post a Comment