Travel and Lifestyle by Diana Putri Maharani

,

Kumpulan Lagu untuk Membangkitkan Semangat


Haha! Artikel kali ini agak random ya? Maklum ye, lagi gak bisa traveling, lagi males juga nulis artikel tentang traveling, jadi kali ini mau bikin artikel tentang kumpulan lagu aja. Asli, lama banget aku gak bikin artikel kumpulan lagu macam begini yes. Kumpulan lagu yang akan aku bahas kali ini isinya yang membangkitkan semangat. Maklumin ya, hayati mendekati masa quarter life crisis atau jangan-jangan sekarang lagi quarter life crisis ya? Hahaha. Jadi sekarang aku lagi hobi banget dengerin lagu-lagu yang bisa membangun semangat. Biar gak loyo menjalani hari-hari. Kumpulan lagu ini mungkin juga cocok buat kamu. Di tengah masa pandemi yang entah kapan berakhir ini, di tengah ketidakpastian pekerjaan atau bahkan udah gak ada pekerjaan, di tengah semakin menipisnya tabungan atau potongan gaji padahal lagi banyak cicilan, ya untuk semuanya yang kondisinya sedang tidak menyenangkan, percayalah kamu tidak sendiri dan semoga kumpulan lagu-lagu yang biasanya bikin aku semangat ini bisa membantu kamu buat bangkit lagi.

Oh ya, seperti biasa ya, kalo kalian punya lagu-lagu lainnya yang bisa bikin kalian semangat, kalian bisa tulis di kolom komentar. Kita bagiin positive vibes bareng-bareng yuk! Kita langsung ke lagu pertama:

1. Naomi Scoot - Speechless
"Try to lock me in this cage. I won't just lay me down and die. I will take these broken wings and watch me burn across the sky...... Cause I'll breathe when they try to suffocate me. Don't you underestimate me, cause I know that I won't go speechless."
Siapa yang gak tau lagu satu ini? Buat kalian yang udah nonton film Aladdin. Lagu ini muncul ketika adegan Jasmine berontak karena dia gak pernah diberi kesempatan untuk menyuarakan suaranya. Akhirnya keluarlah lagu ini sebagai bentuk perasaan Jasmine dan menurutku ini adalah salah satu lagu yang mungkin menggambarkan perasaan kita semua. Perasaan dimana kita harus diam dan tidak bisa memilih apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita suarakan. I know how it feel guys! Karena aku juga pernah berada di posisi kalian.

Lagu ini menggambarkan kalo kita udah muak dengan semuanya. Meskipun banyak yang mencoba menghancurkan/menjatuhkan/menggagalkan kita, dengan tenaga yang tersisa, kita pun tetep berjuang dan akan membuktikan bahwa kita mampu menjadi apa yang kita mau. Karena apapun yang akan menghalangi, kita gak mau cuma diem aja, gak ada yang bisa meremehkan kita.

2. Alphaville - Forever Young
 "Hoping for the best but expecting the worst, are you gonna drop the bomb or not?...... So many adventures couldn't happen today. So many songs we forgot to play. So many dreams swinging out of the blue. We let them come true." 
Ini memang lagu lama banget yang mungkin musik seperti ini udah jarang kita denger di jaman saat ini. Kenapa lagu ini aku pilih, karena aku sering banget ngerasain seperti yang dilagu ini. Ketika kita sudah melakukan semaksimal mungkin yang kita bisa, tapi kita belum tau jawaban atas perjuangan kita. Sambil menunggu jawaban itu, di kepala kita pasti isinya aneh-aneh. Tak dipungkiri pasti rasa pesimis itu ada. Perasaan bahwa kita gagal, walaupun sebenernya kita berharap hasil yang terbaik. Tapi entah kenapa rasa kegagalan itu selalu muncul.

Lagu ini juga mengingatkanku, kalo kita gak boleh terpaku pada satu hal. Karena masih banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan seperti mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan mimpi kita. Jadi, daripada terpaku memikirkan hal yang sudah lewat, lebih baik kita mewujudkan mimpi kita.

3. Ran Feat Yura Yunita - Melawan Dunia
"Mungkin berat tapi kutau apa yang kita jalani, sulit mereka pahami. Namun ku yakin ada jalan untuk kita bersama. Asalkan kita berani, mencinta sepenuh hati. Meski seakan aku dan kamu melawan dunia."

Lagu ini terinspirasi dari bayi Adam Fabumi. Kalo mau tau ceritanya, kalian bisa cari di Google. Hal terpenting dari lagu ini mengigatkan pada kita kalo orang lain belum tentu paham dengan apa yang kita alami. Jadi, gak usah terlalu terpaku dengan omongan orang, karena ini hidup kita. Seberat apapun itu, kita harus berani melangkah meskipun hal itu mustahil. Kalo kita belum mencoba kita gak akan pernah tau hasilnya kan? Yang penting kita berusaha, hasilnya biar nanti Tuhan yang mengatur.

4.  Bondan Prakoso Feat Fade2Black - Ya Sudahlah
"Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai ya sudahlah. Apapun yang terjadi ku kan slalu ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything's gonna be ok."
Aku biasanya memutar lagu ini kalo aku lagi di fase pasrah yang sepasrah-pasrahnya. Jadi biasanya kalo aku udah melakukan suatu hal dan aku gak tau hasilnya bagaimana, daripada aku mikir aneh-aneh biasanya aku nyanyi ini. Ya sudahlah, bener-bener ya sudahlah. Karena dari segala hal kemungkinan, pasti ada beberapa kesempatan kita jatuh tanpa harapan. Daripada aku depresi, jadi aku bilang ke diri sendiri, ya sudahlah. Nobody's perfect begitu pula aku. Lagipula mau bagaimanapun, pasti masih ada orang-orang yang selalu mendukungku dan apabila aku gagal, itu pun bukan hal yang bisa menjatuhkanku. Seperti kata liriknya, apapun yang terjadi, everything's gonna be ok. Jadi gak ada yang perlu kita khawatirkan.

5. Grezia Epiphania, Jason, Agnes Chen - Walau Ku Tak Dapat Melihat
"Walau ku tak dapat melihat semua rencanaMu Tuhan, namun hatiku tetap memandang padaMu, kau tuntun langkahku. Walau ku tak dapat berharap atas kenyataan hidupku, namun hatiku tetap memandang padaMu, kau ada untukku."
Ini memang lagu rohani untuk agama Kristiani sih. Cuma aku suka liriknya aja, seperti bener-bener masuk banget ke kehidupan. Siapa sih yang bisa tau rencana Tuhan terhadap kita itu seperti apa? Meskipun kita berdoa, meminta, dan berusaha, tapi apabila hal yang kita minta dan kita kejar itu bukan milik kita, ya gak akan pernah kita dapatkan. Begitu pula sebaliknya. Rencana Tuhan memang gak ada yang tau. Meskipun begitu, kita gak boleh menyerah. Meskipun kita gak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi Tuhan selalu menuntun kita. Menunjukkan ke arah yang terbaik untuk kita. Pernah denger pepatah seperti ini God answers in 3 ways: He says yes and give you what you want, He says no and gives you something better, and He says wait and gives you the best. Percayalah apapun yang sedang Tuhan berikan kepada kita itu adalah hal yang paling baik saat ini untuk kita.

6. Alessia Cara - How Far I'll Go
"But the voice inside sings a different song, what is wrong with me? See the line where the sky meets the sea? It calls me. And no one knows, how far it goes. If the wind in my sail on the sea stays behind me. One day I'll know, how far I'll go."
Ada yang pernah nonton film Moana? Si gadis kecil yang dipaksa untuk menjadi kepala suku didesanya sedangkan yang ia inginkan adalah berlayar dan mengarungi lautan? Mungkin beberapa dari kita punya kisah yang sama seperti Moana. Kita ingin A, tapi orang tua ingin kita menjadi yang lain. Semakin kita mencoba untuk menghindari mimpi kita, semakin kuat ia menarik kita untuk menggapainya. Walaupun kita gak tau, kalo kita mengikuti mimpi kita apa yang akan terjadi kedepannya dan akan seberapa jauh kita bisa bertahan atau terus berjalan. Tapi setidaknya kalo kita mencoba menembusnya, selagi semesta mendukung, kita akan tau seberapa jauh kita akan melangkah.

7.  Ziv Zaifman dkk - A Million Dreams
"They can say, they can say it all sounds crazy. They can say, they can say I've lost my mind. I don't care, I don't care so call me crazy. We can live in a world that we design. Cause every night I lie in bed the brightest colors fill my head a million dreams are keeping me awake."
Favorit banget buat lagu dari soundtrack The Greatest Showman ini. Kadang ketika kita memiliki ide, orang-orang akan bilang itu mustahil, mereka akan bilang kita gila. Gak akan ada yang percaya kalo kita bisa melakukannya. Tapi justru mimpi-mimpi itulah yang membuat kita tetap hidup hingga sekarang. Mimpi-mimpi itulah yang memberikan kita semangat untuk menjalani hari-hari meskipun kita tengah ditolak oleh siapapun dan dimanapun.

Lagu ini mengajarkan kepada kita bahwa kita berhak menggambar cerita kita sendiri seperti apa yang kita mau. Kita dapat hidup seperti apa yang kita mau. Bukan seperti yang orang lain mau dan gak peduli apa kata orang. Ini mimpi kita, ini hidup kita.

8. Miley Cyrus - The Climb
"There's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move. Always gonna be an uphill battle. Sometimes I'm gonna have to lose. Ain't about how fast I get there. Ain't about what's waiting on the other side. It's the climb."
Salah satu lagu lawas dari Miley Cyrus yang menurutku masih ngena banget nih. Dari keseluruhan liriknya lagu ini menceritakan bagaimana ia sudah hampir dekat dengan mimpinya namun tetap saja ada saja yang menghalanginya untuk menggapai mimpinya. Mau sekuat apapun rintangan itu, lagu ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menyerah. Karena masih ada banyak jalan untuk menuju mimpi kita dan kita harus tetap bergerak untuk mencapai mimpi tersebut. Lagu ini juga bilang bukan tentang seberapa cepat kita menggapai mimpi itu, kita harus menikmati setiap prosesnya. Karena itulah yang dinamakan pendakian menuju mimpi-mimpi kita.

9. Jessie J - Masterpiece
"I'm not gonna stop, I like the view from the top...... I still fall on my face sometimes and I can't colour inside the lines.... No, you haven't seen the best of me. I'm still working on my masterpiece."
Ini lagu dimana menggambarkan kehidupan nyata banget. Ketika kita berjuang tapi kita dicaci maki, kita pun gak akan gentar meskipun kadang cacian itu bikin kita takut juga, bikin kita menyerah. Tapi kita tetep harus inget tujuan yang ingin kita capai. Jessie J menggambarkan kalo keinginan itu adalah ia suka ngeliat pemandangan dari 'atas', jadi dia gak ada berhenti dan menyerah dan ia mengakui kalo memang terkadang kita masih jatuh, kita gak sempurna, kita juga sempet hilang arah dan mungkin cacian orang-orang itu benar bahwa kita gak mampu. Tapi orang-orang belum melihat versi terbaik dari kita, bahwa kita sedang mengerjakan mimpi kita. Mungkin sekarang kondisi kita terlihat buruk, tapi sebenernya kita sedang berjuang untuk menuju impian kita.

10. Jessie J - Flashlight
"And in the dark I found, I lost hope that I won't fly and I sing along... I got all I need when I got you and I. I look around me, and see a sweet life. I'm stuck in the dark but you're my flashlight. You're getting me, getting me through the night."
Masih di lagu Jessie J, lagu terakhir untuk artikel ini adalah soundtrack dari film Pitch Perfect. Dimana lagu ini menggambarkan kita memang gak bisa sendiri. Ketika kita jatuh dan menyerah, kita pasti membutuhkan sesosok yang mampu untuk menyemangati kita. Merekalah yang menyadarkan kepada kita untuk terus berjuang, mereka yang menyadarkan kita bahwa kita tidak sendiri. Mereka yang menyadarkan kita bahwa disekeliling kita masih ada kehidupan yang indah, jadi kita gak perlu takut karena ketika apapun yang terjadi kepada kita, kita memang gak akan pernah sendiri. Meskipun gak ada sesosok manusia pun, Tuhan masih bersama kita untuk terus membantu dan membimbing kita.

Sebenernya, masih ada banyak banget lagu-lagu yang memiliki positive vibes yang bisa membangkitkan semangat kita yang sedang jatuh atau terpuruk. Ada banyak banget lagu-lagu yang belum aku masukan di sini, tapi memang kesepuluh lagu ini yang biasanya aku denger kalo aku lagi down untuk mengingatkan aku bahwa aku gak sendiri dan aku harus berjuang untuk terus menggapai apa yang memang udah aku rancang untuk masa depanku. Ya meskipun aku gak tau apakah itu nanti akan berhasil atau tidak, tapi aku percaya bahwa Tuhan akan selalu membimbing dan memberikan apapun yang terbaik buat kita. Dan apabila apa yang menjadi keinginanku gak terwujud, masih ada hal-hal lain yang bisa aku kerjakan, yang bisa membangun diriku, personalityku, kualitasku.

Kita sebagai manusia memang selalu dan gak pernah berhenti belajar. Beberapa kali kegagalan bukan berarti kita gagal sebagai manusia. Kita hanya perlu mengevaluasi, belajar dari kesalahan sebelumnya, merancang strategi ke depan dan tetap bergerak. Apapun yang terjadi, kita harus menjadi versi terbaik dari diri kita dan bermanfaat setidaknya untuk diri kita sendiri jadinya kita tidak merepotkan orang lain.

Kalo di atas tadi adalah lagu-lagu penyemangat versi aku, kalo versi kalian apa nih? Ada yang lain? Yuk sharing!

Share:
Read More
, ,

Mengurus Visa China Termudah


"Visa apa yang paling mudah? Ya Visa China!"

Banyak banget traveler yang bilang kalo Visa China itu paling mudah. Mudah dari segi persyaratan dan mudah banget diterima (granted) yang penting persyaratannya lengkap aja. Berhubung aku emang mau pergi ke China buat liburan, akhirnya aku apply sendiri Visa China yang katanya super mudah itu.

Jelas yang pertama aku lakukan adalah browsing syarat-syarat pengajuan Visa di web nya langsung, di https://www.visaforchina.org/  Setelah browsing di web resminya, ternyata emang syaratnya simpel banget! Cuma butuh isi formulir, pas foto, bukti perjalanan ke China, fotokopi paspor udah, gitu aja! IYA GAK ADA NYERAHIN BUKTI TABUNGAN, GAK USAH, GAK PENTING BUAT CHINA WKWKWK. Isi formulirnya bisa online tapi bisa juga download formulirnya trus ditulis pake tangan/diketik. Kalo aku milih buat download formulirnya. Karena, kalo isi online, aku harus ngajuin visanya di Jakarta, Surabaya, atau Medan. Sedangkan, kalo aku mau ngajuin di Bali, aku harus download formulirnya dan isi manual. Jadi ya mending ku repot sedikit untuk cost yang lebih irit wkwkwk.

Btw, aku juga baru tau kalo ternyata kita bisa apply Visa China di Denpasar dan ternyata itu memang peraturan baru bahwa sejak pertengahan tahun 2018 bisa apply Visa China di Denpasar. Dimana apply-nya? Kalo kalian tinggal di Bali dan pengen bikin Visa China, kalian bisa apply di Grand Palace Hotel yang di Sanur. Awalnya aku ragu mau apply di sana karena aku gak nemu pengalaman orang yang apply di sana. Apalagi artikel terakhir yang aku baca kalo bisa apply di Bali itu sekitaran tahun 2018. Takutnya sekarang udah gak bisa apply ke sana kan repot juga ya wkwkwk. Jadi, aku berencana pengen dateng ke Grand Palace Hotel Sanur dan tanya apakah masih bisa apply visa di sana apa enggak.


Sembari mencari waktu yang pas buat dateng ke Grand Palace Hotel (karena aku apply akhir Desember 2019 yang banyak banget tanggal merahnya), aku sambil mengumpulkan syarat-syarat buat pengajuan Visa China. Untuk formulir, aku memutuskan buat aku ketik dan kutulis dengan Bahasa Indonesia. Soalnya aku download formulir yang Bahasa Indonesia. Setelah isi formulir, aku beralih ke itinerary.

____________________________________________________________________________________________________________

TIPS! 

  • Bikinlah itinerary sesimpel mungkin tapi tetep masuk akal.
  • Kalo mau nulis kata China, harus CHINA ya, gak boleh CINA. Kalo salah nulis bisa dibalikin.
  • Kalo emang mau mengunjungi lebih dari satu kota di China, harus siapin juga bukti booking transportasi menuju kota tersebut. Kalo gak disiapin, pasti dibalikin berkasnya.

___________________________________________________________________________________________________________

Liburanku ke China berlangsung selama 8 hari efektif. Jadi, buat itinerary persyaratan visa, aku tulis kalo aku bakal jalan-jalan disekitar Beijing aja. Karena sebenernya aku juga belum tau ntar pas udah sampe di China mau kemana aja wkwkwk. Pokoknya itinerary buat persyaratan visa bisa jadi aja dulu wkwkwk. Alasan berikutnya kenapa aku cuma tulis jalan-jalan di Beijing aja, ya karena biar gak ribet harus nyantumin banyak hal. Kalo aku nulis di itinerary bakal mengunjungi kota lainnya, nanti pasti aku disuruh ngelampirin tiket kereta atau pesawat menuju kota tersebut. Sedangkan aku aja belum tau nanti mau kemana aja. Maka dari itu, aku tulis Beijing aja wkwk. Pasti banyak yang nanya pertanyaan ini "Emang boleh ya itinerary yang diajuin gak kita jalanin pas sampe di negara tujuan?" Jawabannya boleh boleh aja kok! Gak ada masalah! Trus untuk hotel, kalo memang belum booking hotel karena masih ragu atau nunggu promo kayak aku, bisa booking hotel yang free cancellation aja dulu. Booking nya dimana? Bisa booking di aplikasi Booking.com, di sana ada banyak pilihan hotel yang free cancellation. Jadi ketika visa udah approve atau kalian udah nemu hotel yang kalian mau, hotel itu bisa kalian cancel. Gak akan masalah juga kok di imigrasi nanti. Buat contoh itinerary yang aku bikin, kalian bisa donwload lewat link di bawah ini :

DOWNLOAD CONTOH ITINERARY VISA CHINA

Setelah urusan itinerary selesai, yang perlu disiapkan lagi jelas bukti booking tiket pesawat PP sama hotel. Kalo pesawat usahakan jangan dummy ya, ada beberapa kasus visanya gak approve karena pake tiket dummy. Bikin Visa China gak susah, kebanyakan pasti approve jadi gak ada ruginya kalo kita beli tiket dulu.

Persyaratan lain yang paling penting adalah fotokopi halaman depan sama halaman belakang paspor. Nah, ada beberapa tips yang harus kalian perhatikan perihal paspor ini. Karena konjen China agak sensitif untuk beberapa urusan mengenai paspor. Jadi pastikan hal-hal ini di bawah ini dulu ya!

____________________________________________________________________________________________________________ 

TIPS! 

  • Paspor nya masih berlaku minimal 6 bulan. Jadi kalo paspor kalian udah mau expired usahakan perpanjang dulu daripada gak di proses visanya.
  • Kalo ada halaman paspor yang sobek, basah, buram, atau cacat lainnya mending langsung ajuin ganti paspor aja. Konjen China ogah nerima paspor yang acak adul begitu.
  • Isi halaman paspor yang paling belakang selengkap-lengkapnya termasuk tanda tangan! Karena halaman belakang juga di fotokopi, jadi harus diisi full, gak boleh ada yang kosong.
  • Pastikan halaman yang tersisa di paspor minimal 4 halaman. Kurang dari 4 halaman mending urus paspor baru aja.
____________________________________________________________________________________________________________ 

Kalo paspor dirasa udah beres, tinggal di fotokopi aja. Fotokopi halaman depan dan belakang paspor di satu kertas A4, tanpa dipotong.

Langkah selanjutnya jangan lupa bikin pas foto. Nah, urusan pas foto visa ini selalu yang bikin ribet ya. Karena gak semua studio foto itu ngerti dengan ketentuan syarat foto visa. Pas foto untuk Visa China ini ukurannya 3,3x4,8 cm dengan ketentuan di bawah ini: 


____________________________________________________________________________________________________________ 

TIPS! 

  • Cari tau di kota kalian, studio foto mana yang udah biasa cetak foto untuk visa.
  • Untuk yang berhijab gak perlu buka hijab. Yang penting alis dan mata terlihat seperti contoh di atas.
  • Untuk wanita gak boleh make up yang terlalu berlebihan. Cukup make up natural dan secukupnya saja.
____________________________________________________________________________________________________________

Yap! Di Bali sendiri, studio foto yang udah biasa nanganin buat bikin foto visa ada di Mercy Photo yang lokasinya di Jl. Gatot Subroto Denpasar. Selain itu aku gak tau sih. Taunya cuma di Mercy Photo aja. Enaknya kalo foto di tempat yang udah biasa nanganin foto visa itu, kita gak perlu ribet ngasih tau foto nya yang kayak gimana. Apalagi kan ukuran fotonya agak gak lazim ya, trus juga untuk foto Visa China ini ada syarat-syaratnya seperti jarak telinga sama batas bawahnya berapa, jarak rambut sama batas atas berapa. Nah, kalo kita foto di tempat yang gak biasa cetak foto buat visa, takutnya foto yang dicetak nanti terlalu nge-zoom atau malah terlalu kecil, intinya gak sesuai lah dengan ketentuan Visa China. Ada beberapa kasus yang visanya gak diproses karena fotonya terlalu nge-zoom jadinya harus foto ulang. Ya memang sih, kalo foto di studio yang memang menyediakan jasa foto visa itu tarifnya bisa berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan studio foto biasa. Tapi dari pada foto berkali-kali karena gak sesuai? Mending keluar mahal sedikit tapi langsung sesuai kan. Hemat waktu dan hemat emosi jadinya hahaha.

Di Mercy Photo aku bayar 75ribu untuk 2 orang, karena aku fotonya sama pacar. Jadi satu orang bayar 35ribu itu udah termasuk difotoin, dapet 4pcs pas foto dan soft copy. Enaknya di Mercy Photo ini, karena dia udah biasa bikin pas foto visa jadi kita langsung diarahin kalo foto Visa China itu gak boleh senyum, jadi bener-bener ekspresi natural biasa.

Sebenernya, syarat-syaratnya udah ini aja. Kalo semua hal di atas udah kalian lakukan, yaudah kalian tinggal ajuin aja berkasnya. Tapi demi menunjang dokumen yang ada, gak ada salahnya kok kalo kita ngelampirin beberapa dokumen. Aku kemaren ngelampirin beberapa dokumen seperti fotokopi KK, fotokopi Akta, fotokopi KTP dan Kartu Mahasiswa. Fotokopi KK, Akta, dan KTP itu aku lampirin sebagai bukti kalo nama aku emang Diana Putri Maharani dan identitas aku ya itu-itu aja gak ada yang berubah. Trus aku juga ngelampirin kartu mahasiswa karena di form aplikasinya aku nulis kalo aku masih mahasiswa dan belum bekerja, jadi aku masukin kartu mahasiswa sebagai dokumen penunjang. Semua dokumen penunjang ini aku fotokopi di kertas A4 tanpa dipotong.

Fotokopi nya kayak gini. Sebelah kiri buat KTP, jadi KTP depan dan belakang dijadikan satu halaman. Untuk yang sebelah kanan itu contoh fotokopi paspor. Sama seperti KTP, halaman depan dan halaman paspor paling belakang di fotokopi dalam satu halaman A4 tanpa dipotong.

Sesudah mengumpulkan berkas-berkas, berangkatlah aku ke Grand Palace Sanur dan waktu kebetulan lagi gak ada yang ngajuin visa kecuali aku. Akhirnya aku tanya ke petugasnya.

Aku : Sore, Mas! Mau tanya kalo ngajuin Visa China bisa di sini?
Mas-nya : Bisa
Aku : Berarti aku gak harus ke Surabaya kan kalo di sini bisa?
Mas-nya : Iya
Aku : Oya mas, kan kemarin aku donwload formulir lewat website resmi. Trus ada yang versi Bahasa Indonesia. Nggak apa-apa kan kalo aku pake yang versi Bahasa Indonesia?
Mas-nya : Nggak apa-apa

Akhirnya aku ajuin berkas-berkas buat bikin visanya. Chinese Visa Application Service Center (CVASC) di Grand Palace Hotel Sanur ini gak seketat seperti yang kubayangkan. Aku udah bayangin kalo masuk bakal seketat kayak konjen Jepang Surabaya yang kita diharuskan melalui beberapa pemeriksaan sebelum masuk buat ngurus visa. Di sini terlihat santai, gak ada pemeriksaan sama sekali. Ya mungkin karena di sini kantor cabang, jadi gak terlalu ketat. By the way, meskipun kita ngajuin aplikasi Visa China di Bali, tapi tetep nanti paspor kita akan dikirim ke Surabaya dan yang mengeluarkan visanya nanti adalah Konsulat Jenderal China yang ada di Surabaya. Di Bali ini cuma sebagai kantor cabang aja biar kita gak usah repot-repot ke Surabaya buat ngurus visanya. Meskipun begitu, tarifnya tetep sama kok. Untuk harga visa sekalian biaya pengurusannya itu kita bayar Rp 540.000,- . Biasanya, kita bayar di akhir, ketika kita mau ambil paspor. Jadinya pas aku ngajuin visa itu, aku gak bawa duit sama sekali. Karena aku yakin di website resmi tertulis kalo bayarnya nanti pas ambil paspor. Kenapa bayarnya pas ambil paspor, ya karena visa kita belum tentu diterima. Kalo visa kita diterima, kita bakalan bayar 540 ribu. Tapi kalo visa kita ditolak kita cukup bayar 300 ribu aja.



Pemeriksaan berkas-berkasnya? LAMA BANGET !!!
Udah kayak meriksa ujian nasional aja dia. Entah apa yang dilihat, yang jelas membutuhkan waktu 30 menit untuk petugasnya meriksa berkas-berkasku. Selanjutnya, dia manggil aku dan menyerahkan kertas kecil.

Mas-nya : Ini saya kembalikan

Mas nya ngembalin dokumen penunjang yang aku berikan, karena emang gak butuh sih.

Mas-nya : Untuk pemrosesan visanya 8 hari kerja ya. Karena banyak tanggal merah, jadi kira-kira visanya baru selesai tanggal 6 Januari.
Aku : Oh iya gak masalah
Mas-nya : Trus ini untuk biaya pemrosesannya 540 ribu.

Melotot lah aku hahahaha. Gimana gak melotot kalo ternyata aku ditagih di awal gini? Dalam kondisi aku gak bawa duit sama sekali dan gak punya duit sama sekali wkwkwkwk. Akhirnya, aku mengeluarkan jurus membela diri.

Aku : Bukannya bayarnya di akhir ya?
Mas-nya : Sekarang
Aku : Loh, di website resmi ditulis kalo pembayarannya di akhir kok.
Mas-nya : Khusus Bali bayarnya di depan

Matilah aku wkwkwk. Mana gak bawa duit lagi. Akhirnya aku cuma bisa nyengir doang.

Aku : Saya gak bawa duit mas hehehe. Saya kira bayarnya di akhir soalnya. Gimana dong?
Mas-nya : Ya sudah, mbak cari ATM dulu. Saya tunggu.
Aku : Kalo saya bayarnya 540 ribu, berarti fix diterima dong visanya mas?
Mas-nya : Ya gak tau mbak
Aku : Lho kan kalo bayarnya 540 ribu berarti visanya diterima. Kalo di tolak bayarnya cuma 300 ribu.

Mas nya cuma senyum doang yang pada akhirnya membuatku takut dan mengalah wkwkwk. Akhirnya mau gak mau aku cari ATM dulu dan balik lagi ke Grand Palace Hotel buat bayar. Setelah bayar, aku diberi form pengambilan paspor dan form itu sebagai bukti kita buat ambil paspor jadi gak boleh hilang.

Nah, setelah 2 minggu berjalan, aku ambil paspor dengan kondisi Visa China nya sudah tertempel manis di pasporku. Bikin Visa China itu paling mudah memang, karena gak harus pusing mikirin rekening tabungan. Jadi, semangat buat pejuang Visa China!
Share:
Read More
, , ,

5D4N Manila Part III - Aku Bingung Harus Kemana




DAY 3
Kalo kemarin di Day 2 kita udah jadi turis, hari ini pengen jadi orang lokal Manila. Kenapa? Karena sejujurnya udah gak ada lagi yang bisa dilihat di Manila kecuali mall hahaha. Jadi setelah kemarin panas-panasan, sekarang ku akan mengajak kalian buat jalan-jalan masuk ke mall.

Ada banyak mall yang bisa dikunjungi di Manila, salah satunya Mall of Asia yang aku kunjungi. Karena hari ini pengen jalan sesantai-santainya, jadi aku nunggu sampe jam 12 siang buat check out dari hotel sebelum nanti mau pindah hotel. Habis check out, nitip tas di hotel dan langsung jalan ke Mall of Asia. Nggak jalan sih, cuma naik grab hahaha. Sebenernya kalo mau ke Mall of Asia bisa naik kendaraan umum. Jadi kalian tinggal naik train sampe stasiun United Station, trus cari mini bus ke Mall of Asia. Cuma karena lagi pengen menikmati hidup, jadinya pengen naik grab aja hahaha. Ya meskipun hari ini Manila macet dimana-mana, karena hari ini emang banyak pengalihan jalan di beberapa titik, tapi lama-lama terbiasa juga dengan macetnya Manila.

Ongkos naik grab ke Mall of Asia sih ya lumayan mahal, soalnya lagi high fare (perasaan high fare mulu wkwk) dan lokasinya cukup jauh dari hotel, tapi rasa penasaran dengan mall yang katanya pernah jadi mall paling besar di Manila pun membuatku ayo aja meskipun harga grab nya mahal.

Jadi apa sih menariknya Mall of Asia ini dibandingkan dengan mall yang lainnya? Selain pernah menjadi mall terbesar di Manila, di mall ini juga memiliki MOA Baywalk dan di sini ada ferris wheel nya. Entah kenapa setiap berkunjung kemanapun, ferris wheel gak pernah ketinggalan buat aku lihat. Maklum, ya beginilah kalo masih bocah hahaha.

Sesampainya di area Mall of Asia yang ternyata emang luas, aku salfok dong sama Alfamart disana. IYA, DI MANILA ADA ALFAMART !! Sayangnya aku gak sempet masuk ataupun foto tokonya ya. Tapi seriusan di Manila itu ada alfamart. Ya meskipun jumlahnya gak sebanyak Circle K atau mini store yang lainnya sih. Cuma ya aku ngerasa bangga sekaligus geli juga, Alfamart bisa buka cabang di Manila.

Pertama kali yang aku cari di MOA (Mall of Asia) itu adalah makanan. Karena belum sarapan dari pagi wkwkwk. Karena lagi males keliling dan yang udah kelihatan mata McD, yaudah, ku makan McD lagi hahaha. Hidup fast food!! Oke, cerita makan gak perlu detail-detail ya biar bisa langsung cerita ke lainnya aja. Nah, selain karena ada ferris wheel, di MOA ini juga ada salah satu store yang jualan oleh-oleh khas Manila dan store ini cukup terkenal buat para traveler. Namanya Kultura, letaknya ada di lantai paling bawah dari MOA. Di Manila emang jarang banget ada tempat buat beli oleh-oleh. Kalo di Singapore kan ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi kayak Bugis Street, China Town, dll. Kalo di Kuala Lumpur ada Pasar Seni. Kalo di Thailand ada Cha Tu Chak, kalo di Kamboja ada Pub Street. Kalo di Kuta ada Joger, Pasar Seni Sukawati, atau Khrisna. Nah di Manila???? Gak ada yang namanya pasar seni begituan. Jadi cukup susah kalo mau cari oleh-oleh khas Manila. Apalagi aku emang koleksi snow globe dari berbagai negara. Kemaren aja pas keliling jadi turis, sama sekali gak nemu snow globe di tempat wisata. Jadi, berharap banget di Kultura ada snow globe.

Karena letaknya di mall, jadi gak ada ceritanya tawar menawar di Kultura. Semua harganya fix dan mahal banget buukkk!!! Ku jadi kangen beli cokelat seharga S$1 di Singapore wkwk. Di Manila, satu biji gantungan kunci itu harganya 20 ribu coba pikir, sedangkan di Singapore S$5 aja udah dapet 10 biji. Mahal sih memang, tapi ya daripada gak dapet landmark dari Manila. Dan ternyata di sini juga gak ada yang namanya snow globe. Hah! Menyedihkan, tapi gak papa sih aku masih bisa dapet hiasan macam snow globe meskipun dia bukan snow globe. Harganya cukup murah 80 ribu rupiah yang ukuran besar, sedangkan yang ukuran kecil cuma 50 ribu. Padahal biasanya budget buat beli snow globe yang ukuran 11cm aja harganya minimal 75ribu. Selain hiasan dekorasi rumah, di Kultura juga jual souvenir lainnya yang khas Philippines seperti kaos, tote bag, hoodie, makanan, dll. Banyak lah pokoknya.



Selain ke Kultura, iseng pengen nonton bioskop di Manila. Selama aku traveling ke luar negeri, belum pernah sekali pun terbesit keisengan buat nonton di bioskop. Saat itu, harga tiket bioskop paling murah di Mall of Asia sebesar 320 PHP untuk film Dora The Explorer. Akhirnya memutuskan nonton Dora karena yang lainnya film Philippines wkwk. Aku memilih kursi C karena kalo XXI atau kalo beli tiket bioskop di Indonesia pasti pilih kursi C atau D biar gak terlalu tinggi dan gak terlalu di bawah. Tapi ternyata setelah masuk ke dalam bioskopnya, kursi nya jauh bener dah sama layar dan layarnya gak terlalu gede jadi gak berasa nonton di bioskop tapi berasa nonton layar tancep wkwk. Alhamdulillah ya bioskop Indonesia masih lebih baik. 

Nonton film Dora yang udah jelas merupakan film anak-anak, yang nonton otomatis kebanyakan anak-anak. Aku udah menyiapkan diri kalo di layar nanti ada tulisan bahasa Tagalog yang mungkin aja bisa ganggu pemandangan wkwk. Tapi ternyata aku salah. SUBTITLE NYA GAK ADA! Beneran! Jadi tu bocah-bocah nonton film Dora pake Bahasa Inggris. Buset! Sempet mikir palingan juga tu bocah-bocah kagak ngerti artinya. Eh ternyata mereka ngerti dong. Buktinya mereka ketawa saat ada dialog yang cukup lucu. Dari sini aku kagum. Ternyata anak-anak di Philippines sejak dini udah fasih Bahasa Inggris, sampe film berbahasa asing aja gak perlu di translate. Oke, kuakui Indonesia kalah untuk urusan beginian. Untuk urusan Bahasa Inggris, Philippines ternyata jauh lebih maju dibandingkan Indonesia. Wah, tugas berat ini untuk lebih memaksimalkan lagi kurikulum Indonesia terutama dalam hal berbahasa.

Selesai nonton bioskop eh ternyata udah sore. Kepikiran buat jalan-jalan ke Baywalk nya dan buat naik ferris wheel nya. Ferris wheel di sini harganya murah banget, cuma 30 ribu rupiah aja, jadi semangat buat naik. Apalagi kalo naiknya pas sunset, sayang banget waktu itu lagi mendung jadi gak dapet sunset. Tapi lumayan bisa liat Manila dari atas. Di Baywalk ini modelnya mirip sama Asiatique, tapi gak segede Asiatique. Jadi ada beberapa wahana yang bisa kalian coba trus ada beberapa kedai makanannya juga meskipun gak terlalu banyak. Enak banget pokoknya santai di baywalk.



Selesai dari Baywalk, langsung cus ke hotel buat ambil tas dan langsung pindah hotel ke Makati Riverside Inn. Hmm, aku gak terlalu merekomendasikan hotel ini ya. Sebenernya sih ini hotel bagus, harga murah dengan pelayanan yang cukup memuaskan. Cuma, lokasinya terpencil banget dan kalo kita pulang terlalu malem, jalannya suka ditutup sama palang, jadinya dari ujung jalan kita harus jalan kaki hotelnya. Terus juga jauh dari mini market. Tapi enaknya, kita bisa refill minuman sepuas kita. Btw kunci kamar hotel ini masih manual. Iya pake kunci biasa dan kuncinya ribet banget. Jadi di pintu ada dua kunci yang harus dua-duanya kita puter itu kunci. Gimana ya? Susah jelasinnya yang jelas ribet banget kuncinya. Yasudahlah yaa, yang penting masih ada tempat berteduh, tapi kayaknya gak bakal balik lagi di hotel ini.

DAY 4
Hari keempat dan aku udah bingung mau kemana lagi wkwk. Akhirnya kuputuskan buat cari makanan Indonesia yang ada di Manila akhirnya ketemulah satu restoran yang lokasinya ada di Makati yaitu Restoran Garuda. Lokasinya pas banget di depan KBRI. Ada banyak menu Indonesia di sini dan porsinya lumayan gede jadi bisa sharing macam di D'cost begitu saudara-saudara. Harganya emang lebih mahal sih dari yang seharusnya tapi rasanya lumayan lah meskipun tetep gak bisa seenak makan langsung di Indonesia. Waktu itu aku pesan menu paket yang isinya sayur, rendang, sama bakwan. Harganya 245 PHP atau sekitar 60ribu rupiah. Tapi lumayan buat bikin aku ngerasa kayak di rumah. Apalagi backsound di restoran ini lagu-lagu dari artis papan atas di Indonesia macam Raisa, Gigi, dan juga sempet diputerin lagunya Dewa yang Kangen dong. Huwaaaa jadi kangen rumah.

Selesai makan akhirnya langsung menuju ke Bonifacio Global City. Denger-denger daerah BGC ini daerah Eropanya Manila. Entah bener apa enggak, mari kita kesana. Jadi, kalo mau ke BGC ada beberapa pilihan transportasi. Kali ini enggak naik grab soalnya pengen coba transportasi lainnya wkwk. Jadi, dari Garuda Restoran, jalan kaki ke Ayala Avenue Bus Station. Jadi, kalo mau ke BGC itu ada shuttle busnya yang cuma ada di Ayala Avenue Bus Station. Kalo mau naik shuttle bus ini bayarnya 13 PHP pake kartu beep. Untung udah beli kartu Beep kan wkwk. Bus nya sama sih kayak bus-bus yang ada di Singapore atau Go KL nya di KL jadi not bad kok. Untuk rutenya ada 4, ada yang south, north, west sama east. Semuanya turun di BGC, cuma beda tujuan akhir aja. Karena aku pengen ke daerah Bonifacio High Street jadi naik yang north. Kalo bingung naik yang mana, tanya aja petugas di sana kalian pengen kemana trus harus naik yang mana.

Perjalanannya gak terlalu lama kok, cuma satu jam aja udah nyampe di area BGC. Gak enaknya adalah, aku sampe di BGC nya kesiangan, sedangkan Bonifacio High Street ini biasanya paling rame malem hari. Jadi sekarang masih sepiiii banget. Akhirnya pesen grab buat ke Venice Grand Canal Mall. Buat ke Venice Grand Canal Mall ini lokasinya masih jauh banget dari Bonifacio High Street. Kira-kira adalah 3-4 km. Niat hati mau jalan kaki tapi kok kayaknya jauh banget deh, akhirnya coba pesen grab dan gak ada yang ngambil dong!!! Astaga pesen grab di area BGC ini susah banget. Satu jam nunggu baru dapet grab wkwk dan akhirnya menujulah ke Venice Grand Canal Mall.


Sama seperti mall-mall lainnya, Venice Grand Canal Mall ini ya isinya barang-barang branded semua mirip seperti di Mall of Asia. Cuma bedanya dia punya atraksi menarik. Ketika kita masuk ke dalam mall, langsung ada canal buatan yang dibuat mirip seperti di Venice dan ada gondolanya juga. Kita bisa banget naik gondolanya. Tapi aku gak naik karena gak terlalu berminat wkwk. Canal nya kecil gak terlalu besar tapi ya lumayan lah. Bersih dan ya lumayan mirip sama Venice meskipun gak mirip-mirip amat. Akhirnya, sepanjang malam ku habiskan waktu di sini. Lumayan juga ini mall buat nongkrong. Setidaknya, di pinggir canal ada banyak cafe yang bisa kita tongkrongin dan lumayan instagramable. Jadinya betah nongkrong sampe jam 8 malem. Akhirnya, gak jadi ke Bonifacio High Street karena jauh dan susah cari grab. Mendingan cari grab trus langsung pulang ke hotel wkwk dan tetep aja susah banget cari grab nya di area BGC.

DAY 5
Hari terakhir di Manila dan astagaaaa ku benar-benar sudah gak punya ide lagi harus kemana. Cari-cari info di internet pun juga udah semua kukunjungi tapi ternyata ada satu yang belum aku kunjungi yaitu China Town. Denger-denger China Town di Manila ini adalah the oldest china town in the world. Hmm... Boleh juga nih. Akhirnya sekalian deh aku mau cobain ferry di Manila kayak gimana. Dari Guadalupe Ferry Station, aku menuju ke Escolta Ferry Station. Harga tiketnya lumayan mahal yaitu 50 PHP, tapi ferry nya memang lebih sepi sih dibandingkan dengan transportasi lainnya dan juga gak serame ferry di Bangkok. Saking sepinya berasa kayak sewa ferry sendiri.

Menyusuri sungai Pasig yang panjang banget, membuat aku bisa melihat secara nyata ketimpangan kehidupan masyarakat di Manila. Sungainya? Jangan salah, kotor, airnya berwarna cokelat dan bau. Iya, bau. Ya meskipun Chao Praya River di Bangkok juga cokelat airnya, seenggaknya sungai di Bangkok gak bau. Tapi ini, serius. BAU. Mungkin juga karena ini makanya transportasi ferry di Manila jarang ada peminatnya.

Sampe di Escolta, lanjut jalan kaki menuju China Town Walk. Jadi China Town Walk ini cuma sebuah gang yang ada di sebelah mall, yang dipasang lampion-lampion dan beberapa stand snack. Asli, ku pikir bakalan panjang kayak China Town di Kuala Lumpur atau Singapore yang sibuk dengan hiruk pikuknya. But, ini diluar ekspektasi banget guys. Akhirnya, karena bingung mau ngapain lagi, ku jalan-jalan gak jelas masuk ke pasar tradisional yang ada di belakang China Town Walk. Pasar tradisional di Manila gak beda jauh sama Indonesia. Ribut, becek, desak-desakan, ya ampuuun mirip banget dah sama Indonesia pokoknya. Pantes banyak orang yang bilang Manila itu mirip sama Indonesia. Bahkan bisa kubilang Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Manila.


Setelah keliling pasar dan bingung mau kemana akhirnya naik grab ke Rizal Park buat liat dancing fountain. Finally, di akhir kunjunganku di Manila, aku bisa terkesan dengan dancing fountain nya. Sekali lagi meskipun gak sebagus dacing fountain di KLCC atau di Marina Bay Singapore, setidaknya bisa jadi penutup yang manis dari perjalananku di Manila. Setelah bosan nonton dancing fountain aku pun balik ke hotel buat ambil tas trus langsung nginep di airport.

Ah Manila...
Ternyata 5 hari di sini membuatku cukup bosan juga. Ternyata bener kata orang, 3 hari aja cukup buat eksplore Manila. Gak perlu lama-lama. Tapi kuucapkan terima kasih, karena aku lebih bersyukur negaraku bisa lebih baik. Ku akui, dari segi destinasi yang ditawarkan Manila, ini bukanlah best trip dibandingkan dengan negara lainnya yang menawarkan destinasi yang lebih menarik. Ya gak heran Manila jarang dijadikan tempat liburan. Ternyata begini toh kondisinya. Setidaknya, aku udah gak penasaran lagi kenapa sih orang-orang jarang banget ke Manila dan sudah kubuktikan sendiri di Manila.

Bukan yang terbaik tapi tidak membuatku melupakan Manila. Santai di MoA walk dan Intramuros tentu adalah hal yang gak akan aku lupakan. Kekagumanku akan kefasihan masyarakat Manila berbicara Bahasa Inggris tentu akan selamanya aku akui. You're the best! Sekali lagi, Manila membukakan mataku untuk lebih bersyukur karena tinggal di Indonesia. Mungkin, untuk kalian yang ngerasa jenuh dan bosan akan Indonesia, kalian bisa ke sini. Bukan sekedar wisata ya, tapi kalian bisa melihat dengan sendiri bagaimana kehidupan masyarakat di Manila. Trust me, kalian akan langsung merasa bersyukur karena kondisi Indonesia jauh lebih baik.

Aku berharap semoga Manila mau berbenah kalo memang gak mau kalah sama daerah kepulauan lainnya seperti Cebu, El Nino, Davao, dkk. Semoga, suatu saat nanti kalo aku memang diizinkan untuk ke Manila lagi, aku bisa melihat Manila yang lebih baik lagi. Dan pasti... Pasti aku akan kembali. Salamat po, Manila! See you when I see you...
Share:
Read More
, , ,

5D4N Manila Part II - Jadi Turis Sehari di Rizal Park dan Intramuros

San Agustin Church, Intramuros, Manila, Philippines

DAY 2
Magandang umaga, Philippines! (Good morning, Philippines!)
Hari baru, semangat baru dong! Setelah kemarin sedikit merasa kecewa karena melihat kota yang semrawut ini, hari ini ku berharap ku bisa menemukan hal menarik di Manila. Di pagi hari yang cerah ini, ku akan mengunjungi Rizal Park Monument atau nama lainnya adalah Luneta Park. Ini kalo di Jakarta bisa dibilang kayak Monas nya Manila. Nah siapa sih Rizal ini? Rizal ini sebenernya adalah Dr Jose Rizal, seorang pahlawan tertinggi di Philippines yang meninggal karena tertembak oleh Kerajaan Spanyol karena saat itu beliau menentang penjajahan Spanyol di Philippines. Cerita sejarah lengkapnya silakan tanya Google aja ya, ku takut salah kalo aku yang cerita hahaha. Jadi selain monumen Rizal, di sini juga ada taman. Tamannya lumayan luas, google bilang sih luasnya 58 hektar. Di tengah-tengah taman ada kolam yang kalo kata google ada dancing fountain-nya kalo malem hari. Selain itu, disini juga ada auditorium gitu, kayaknya sering ada acara di auditoriumnya itu. Ada juga Japanese Garden, Chinese Garden, tapi aku gak berminat buat masuk meskipun gratis. Aku lebih memilih buat nongkrong di Rizal Park.

Rizal Park Monument
Rizal Park saat itu gak terlalu rame dan gak terlalu panas, ditambah ada banyak kursi tamannya, jadi pas banget buat nongkrong. Aku duduk sebentar sambil menikmati suasana di Rizal Park. Nah, tempat kayak gini favorit aku banget. Tempat di mana aku bisa duduk santai, diem sambil ngeliatin orang-orang, surga banget dah pokoknya. Baiklah Manila, rasanya aku mulai jatuh cinta sama kamu. Oh ya, sayangnya aku masih ngeliat para homeless ini dimana-mana termasuk di Rizal Park. Kayaknya mereka malah memang tidur di Rizal Park. Sayang banget ya sebenernya, tempat sebagus ini seharusnya bisa menjadi icon dari Manila tapi sepertinya kurang diatur dengan baik. Bukan tempatnya, kalo tempat sih udah bagus, tapi masyarakatnya yang harus lebih diatur lagi hehehe.

Karena pagi belum sarapan dan di hotel gak disediain sarapan, selesai nongkrong cantik di Rizal Park, akhirnya aku jalan ke Jollibee yang ada di deket Rizal Park. Jollibee ini semacam fast food nya Philippines. Jadi ya kayak KFC, McD atau CFC pada umumnya. Dulu sih Jollibee ini pernah buka di Jakarta, tapi gak tau kenapa udah tutup. Nah, katanya belum ke Manila kalo belum pernah coba makan di Jollibee. Ya meskipun sama-sama nasi ayam sih, cuma aku jadi penasaran, Jollibee itu rasanya kayak apa? Apakah worth it dengan ungkapan "belum ke Manila kalo belum cobain Jollibee"?

Menu di Jollibee hampir sama kayak fast food pada umumnya. Ada paket hematnya juga dan memang harganya lebih murah dibandingkan dengan McD. Ya selisih 10 PHP lah, lumayan hemat 3000 rupiah kan wkwkwk. Dilihat dari segi besar/kecilnya ayam, ayam di Jollibee emang lebih gede dibandingkan ayam McD. Rasanya mirip KFC Indonesia, jadi ku sudah gak asing dengan rasa ini. Ini kalo di mulutku sih. Jadi kalo menurutku, nothing special sama si Jollibee ini karena rasanya sama aja kayak KFC wkwk. Entah ya kalo di mulut kalian, kadang mulutku emang suka kurang ajar, gak bisa bedain makanan enak atau enggak hihi. Maklum, mulut udah keracunan micin sih, jadi rada bego kalo urusan nyicipin beginian hahaha.

Selesai makan di Jollibee niatnya mau langsung jalan kaki ke Intramuros, tapi tiba-tiba di jalan nemu National Museum of Natural History. Di seberangnya ada National Museum of Anthropology. Museum-museum ini sebenernya masih satu kawasan sama Rizal Park. Cuma dipisahkan sama jalan raya aja. Jadi, lokasi museum ini ada di seberang Rizal Park. Awalnya ragu mau masuk ke National Museum of Natural History, soalnya takut mahal wkwk eh ternyata gratis dong masuk ke museum. Akhirnya kuputuskan untuk masuk dan jalan-jalan di museum ini. Oh ya, tas gak boleh dibawa masuk kecuali tas kecil. Tapi ada penitipan barangnya kok di sini. Museum ini? BAGUS BANGETT !!! Isinya sih sebenernya hampir sama lah kayak museum-museum di Indonesia di mana kita bisa lihat flora fauna yang ada di Phillipines, kemudian fenomena alam apa yang biasa dan pernah terjadi di Philippines. Ya mirip Eco Green Park di Malang lah, cuma ini indoor aja gitu. Tapi yang aku salutin, tempat sebagus ini bisa free entrance loh, gak bayar apapun. Sedangkan kalo di Indonesia pasti udah mahal nih masuk ke tempat beginian.

National Museum of Natural History

Salah satu ruangan di National Museum of Natural History. Buat kalian para arsitektur, kalian pasti suka kesini

Worth it banget kalo kalian mau ngabisin waktu di sini karena memang sebagus itu, isinya menarik, tatanan ruangnya juga bagus dan jadi nambah pengetahuan kita tentang kekayaan alam yang ada di Philippines. Ternyata gak rugi juga masuk ke sini hihihi. Ini adalah salah satu tempat yang gak ada di itinerary aku, bahkan aku gak nyadar kalo ada museum ini. Aku rekomendasiin banget buat kesini. Tapi keliling museum ini emang capek sih. Menurut catatan mi band, keliling museum ini dari bawah sampe atas aja sama aja kita udah jalan sejauh 7km. Lumayan kan buat diet, apalagi sebelumnya makananku fast food melulu.

Selesai dari museum, langsung deh jalan ke Intramuros. Dari museum ini ke Intramuros masih harus jalan ya kira-kira sekilo lah wkwk. Sehat bener dah aku jadinya kalo lagi traveling ya! Sepanjang jalan menuju Intramuros, orang-orang pasti bakalan nawarin paket tour mereka. Ada yang nawarin tour keliling intramuros naik sepeda lah, atau naik becak lah, dengan beragam harga. Ada yang nawarin 200 PHP, ada yang 400 PHP, tapi ku tolak semuanya hahaha. Karena aku emang udah niat mau jalan kaki keliling Intramuros, kayaknya lebih asyik aja gitu.

Gerbang masuk Intramuros. Langsung terlihat ya perbedaan suasananya
Nyari arah ke Intramuros itu gak susah, ikutin google maps aja pasti udah sampe. Aku kemaren juga ngikutin google maps, tau-tau udah sampe aja di gerbang masuk Intramuros. Rasanya happy sekaligus penasaran. Kenapa penasaran? Karena kata orang-orang, Intramuros adalah salah satu objek wisata yang dibanggakan oleh Manila. Jadinya kepo, kayak apa sih Intramuros ini. Intramuros adalah satu-satunya objek wisata Manila yang amat sangat ingin ku kunjungi.

Intramuros ini sebenernya sebuah kawasan gitu. Ya mirip-mirip kayak kawasan Kota Tua Jakarta atau Kota Lama nya Semarang. Jadi, isinya bangunan-bangunan lama khas Spanyol semua, selain itu juga banyak ada cafe di sini. Ketika masuk ke Intramuros, maka kita akan ngeliat sisi lain dari Manila. Berbeda dengan Malate yang semrawut, Intramuros sedikit lebih teratur lah setidaknya dalam hal kebersihan. Mungkin karena jadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi turis kali ya, jadinya ya Intramuros harus dibuat senyaman, sebersih, dan semenarik mungkin. Tapi kalo urusan macet ya tetep aja wkwk. Padahal jalanan di Intramuros itu kecil-kecil, ya sebenernya lebih cocok kalo dibikin jadi pedestrian walk gitu aja kali kayak di Semarang. Jadi pejalan kaki gak terganggu sama kendaraan yang masuk sampe ke gang-gang. Tapi kayaknya agak susah, mengingat di dalam area Intramuros ini ada banyak gereja, jadi ya mau gak mau memang jalanan harus dibuka buat kendaraan juga. Ah sudahlah, ngapain jadi bahas lalu lintas ya? Hahaha.

Ada beberapa tempat yang paling sering dikunjungi sama traveler kalo lagi di Intramuros, seperti Museum San Agustin Church, Casa Manila, Fort Santiago, ditambah dengan Cathedral Church. Hmm... Banyak sih tempat-tempat unik lainnya, cuma biasanya yang paling umum dikunjungi ya 4 itu aja. Nyari keempat tempat itu gampang banget, karena mereka berada di satu garis lurus. Dari gerbang Intramuros, tinggal jalan lurus aja tau-tau udah sampe di Casa Manila. Seberangnya Casa Manila ada San Agustin Church. Kalo mau lurus lagi langsung ketemu sama Cathedral Church. Dari Cathedral Church tinggal lurus lagi sampe mentok udah sampe di Fort Santiago. Bener-bener gak usah belok kemana-mana.

Kemarin sih aku mampir ke San Agustin Church Museum dan gak mampir ke Casa Manila. Karena apa? Capek wkwkwk. Keliling San Agustin Church Museum itu totally melelahkan banget. Apalagi tadi habis keliling museum sampe 7km kan. Nah, kalo mau masuk ke San Agustin Church Museum ini kita harus bayar seharga 200 PHP. Mahal? Iya mahal, tapi sayang banget kalo kita ngelewatin gereja yang indah banget ini. Gereja ini dinobatkan UNESCO menjadi salah satu situs warisan dunia. Sejarah lengkapnya silakan google sendiri wkwkwk. Ntar kepanjangan kalo ku cerita sejarah di sini.

Lorong di San Agustin Church
Gereja yang bangunannya bergaya Spanyol ini bener-bener cantiiikkkkk banget! Bahkan ketika pertama kali kalian masuk, aku langsung melongo karena ini emang cantik. Maklum, kagak pernah liat gereja yang secantik ini sebelumnya. Nah, selain kita keliling ke museumnya, kita juga bisa masuk ke tempat ibadahnya kalo lagi gak ada acara. Saking cantiknya gereja ini, sering ada acara nikahan di sini. Kalo lagi ada acara nikahan ya otomatis kita gak bisa masuk ke gerejanya, cuma bisa keliling di museumnya aja. Kebetulan banget pas aku ke sana lagi gak ada acara. Jadi aku bisa masuk. Boleh? Boleh-boleh aja. Ya meskipun aku cukup menarik perhatian ya, karena dari beberapa pengunjung di sana, cuma aku yang berhijab dan masuk ke gereja bahkan jalan sampe di depan altar. Terserah kalian mau menilai bagaimana, yang jelas niatku hanya buat menikmati karya seni yang luar biasa ini.

Setelah puas berkeliling di dalem gereja, ngeliat satu-satu ornamen yang ada di sana, aku keliling ke museumnya. Di museumnya terdapat banyak lukisan bahkan barang-barang bersejarah yang menggambarkan sejarah dari San Agustin Church sendiri. Selain itu di sini juga ada tempat sendiri untuk menaruh abu jenazah dari orang-orang yang sudah meninggal. Gereja ini luassssnyaaaa amit-amit. Di tengah-tengah gereja ada taman yang gak kalah cantik juga. Trus ada koridor panjang dan cantik. Tapi kalo malem kayaknya serem deh, tiba-tiba aja waktu itu aku bayangin film The Nun lagi syuting di sana wkwk. Habis tempatnya mirip sih, lorong panjang di tengah ada taman gitu. Gelap lagi wkwkwk.

Taman di tengah bangunan San Agustin Church

Ruang penyimpanan abu jenazah di San Agustin Church

Selesai dari gereja aku jalan lagi dan sampai lah di Cathedral Church. Gereja yang arsitekturnya gak kalah cantik sama San Agustin. Tapi sayangnya, di sana lagi ada ibadah waktu itu, jadi aku gak bisa masuk ke dalam, cuma bisa foto-foto dari luar aja hihihi. Ngeliat gereja ini, aku berasa kayak lagi di Eropa beneran hahaha. Padahal ini cuma di Manila. Emang luar biasa perbedaan wajah dari Manila, bisa membuat kita seolah-olah lagi di Eropa. 

Karena gak bisa masuk ke Cathedral, akhirnya aku jalan lagi sampe ke Fort Santiago. Fort Santiago ini juga salah satu tempat bersejarah di Manila. Kenapa? Karena di benteng pertahanan inilah, Jose Rizal dipenjara sebelum di eksekusi dan juga tempat ini sebagai saksi kebrutalan Jepang saat membantai ribuan orang ketika Jepang menjajah Philippines. Untuk masuk ke Fort Santiago, kita perlu bayar 100 PHP. Fort Santiago tempatnya juga luas. Ketika kita udah beli tiket dan masuk, kita langsung disuguhi taman yang luas sebelum pada akhirnya kita masuk ke gerbang Fort Santiago. Tamannya enak sih buat nongkrong, cuma kalo siang-siang panasnya mit-amit karena jarang ada pohon tinggi yang mengayomi wkwk. Ketika udah masuk di gerbang Fort Santiago, kita bakal disuguhi taman lagi, tapi gak seluas taman yang di depan. Di tengah taman ada patung Jose Rizal. Di sini juga ada Rizal Shrine Museum yang menceritakan tentang perjuangan Jose Rizal hingga akhirnya di eksekusi. Konon katanya, kita juga bisa melihat jejak kaki terakhir Jose Rizal hingga akhirnya beliau di eksekusi. Masuk ke museum ini free tapi aku gak masuk sih hihihi. 

Cathedral Church

Setelah puas di Fort Santiago, aku jalan kaki ke Starbucks hahaha. Bangunan Starbucks di Manila juga unik-unik dan lucu buat di foto. Tapi aku ke Starbucks bukan buat foto-foto sih, tapi buat minum lah, panas guys di Manila ituuuu. Harga Starbucks baik di Manila maupun di Indonesia sebenernya gak beda jauh, cuma selisih 10 ribu aja. Lebih murah di Manila sih kalo diitung-itung, tapi ya tergantung kurs saat itu ya. Kalo pas kurs ku kemaren sih lebih murah beli Starbucks di Manila dibandingkan di Indonesia. Hmm... Tumbler? Ada kok tumbler Manila cuma ya karena aku bukan koleksi tumbler, jadi gak beli hahaha.

Gerbang Fort Santiago, setelah melewati taman yang luas

Karena udah capek jalan 12,7 km (menurut catatan mi band sih udah 12,7 km), akhirnya aku memutuskan buat istirahat di hotel sebelum nanti malem keluar lagi. Ke hotel naik apa? Naik grab wkwkwk. Karena betis udah mau meledak rasanya. Sebenernya kalo mau ke hotel tinggal jalan aja ya mugkin ada lah 2,5 - 3 km ya. Kalo mau santai sih sebenernya bisa aja, tapi ku males karena panas hihihi dan ya seperti biasa, jarak 3 km aja bisa capek di jalan karena macet. Tapi kan gak panas yes dan tinggal duduk sambil liatin jalanan doang yes. Jadi ya dinikmati aja hihihi.

Malemnya aku jalan-jalan ke Mall Robinson yang di deket hotelku. Kepo aja mall di Manila itu kayak gimana. Hmm... Seperti biasa, Mall Robinson itu gak terlalu menarik kalo menurutku wkwk. Ya selayaknya mall aja lah isinya dan gak terlalu besar. Banyak outlet makanan dan banyak beberapa toko fashion dengan brand terkenal. Tapi harganya sama aja kayak di Indonesia, jadinya kagak beli wkwk. Padahal aku udah berharap lebih murah. Eh ternyata kagak murah, ya sudahlah wkwk. Gak terlalu lama sih di mall, karena jam 9 udah tutup, jadinya ya harus cepet-cepet geser dari mall. Begitu mall mau tutup, seperti biasanya jalanan jadi macet karena banyak kendaraan keluar dari mall dalam waktu yang bersamaan. Akhirnya, jalan-jalan sebentar di sekitar hotel sambil cari makan dan kemudian balik hotel buat tiduuurrr.

Hari ini? Lebih baik lah dibandingkan dengan kemarin. Mungkin karena aku ke tempat wisata yang memang menjadi tujuan turis, jadi lebih enak dipandang dan dirasakan aja dibanding kemarin ketika aku berbaur dengan masyarakat. Oh ya, karena bentuk wajah orang Indonesia dan Philippines itu mirip, aku sering diajak ngobrol pake Bahasa Tagalog karena dikira orang sana hahaha. Pernah nih, satpam di stasiun ngajak ngomong panjang lebar pake Bahasa Tagalog dan aku cuma bisa melongo karena gak ngerti hahaha.

Sekarang aku tau kenapa Intramuros menjadi salah satu destinasi wajib ketika kita ke Manila, ya karena memang sekeren itu dan sayang banget buat dilewatkan. Cukup lah hari ini jalan-jalannya ya hahaha. Nanti kita sambung di hari berikutnya ya.

Kita Tayo Bukas! (See you tomorrow!)

NOTE!
Beberapa tempat wisata di Manila itu gak boleh divideoin, guys! Kayak di museum, di San Agustin Church itu gak boleh video ya! Jadi jangan curi-curi ya, gak baik hihihi.
Share:
Read More
, , ,

5D4N Manila Part I - First Impressionnya Kok Begini?


"Enjoy, Manila!"
Kalimat yang kedengarannya emang menjadi salah satu slogan dari Manila. Kenapa Manila? Banyak yang bertanya demikian ketika kuputuskan ke Manila saja. Iya, Manila saja selama 5 hari 4 malam. Iya selama itu cuma ke Manila. Padahal biasanya orang-orang ke Manila maksimal cuma 3 hari aja. Karena menurut mereka, gak ada yang bisa di eksplor di Manila. Lalu kira-kira apa yang bisa dilihat kalo kita memiliki waktu 5 hari di Manila? Oke jadi mari kita jabarkan itinerary aku selama 5 hari di Manila.

Day 1

Manila dari atas pesawat. Padet banget ya?


Berhubung jadwal penerbangan Bali-Manila by Cebu Pacific cuma ada satu, jadi gak ada pilihan lain selain memilih penerbangan jam 8 pagi sampe jam 1 siang. Lama terbang ke Manila dari Bali memang sekitar 4 jam. Ketika mau landing, di pesawat seperti biasa akan diberi arrival card yang harus diisi ketika kita akan memasuki negara Philippines. Arrival card yang cukup simpel dibandingkan negara-negara yang sudah pernah aku kunjungi.

Ketika udah landing nih, aku udah bayangin antrian imigrasi yang panjang seperti kalo habis landing di Bangkok, Kamboja, atau negara-negara lainnya. Tapi ternyata enggak. Imigrasi Manila cenderung sepi, bahkan gak ada yang ngantri. Lah kan aku jadi parno ya, ini kok kagak ada yang ngantri. Padahal pesawat yang aku naiki itu penuh penumpangnya, tapi ternyata mereka hanya transit di Manila dan akan melanjutkan ke penerbangan selanjutnya. Hmm... Memang Manila biasanya cuma dijadikan lokasi transit bagi para traveler. Jadi gak heran kan kalo Manila cenderung sepi pengunjung.

Di imigrasi pun gak ditanya macam-macam. Cuma ditanya berapa hari di Manila dan passport pun langsung di cap. Cek costume? Gak ada. Aku pun gak melihat ada pengecekan costume di sini. Entah karena aku hanya membawa backpack terus gak ada pemeriksaan costume atau memang gak ada pemeriksaan costume? Ah sudahlah, yang penting sudah diijinkan masuk. Begitu exit, seperti biasa ada beberapa money changer di sana. Berhubung udah menyiapkan pesos dari Indonesia, jadi gak perlu lagi buat tukar uang. Rate yang aku dapet di Bali sekitar 273. Tapi kalo kalian mau tuker uang di airport boleh juga. Rate nya lumayan bagus. Tapi ya harus bawa dollar dulu ya dari Indonesia. Kalo pake rupiah sih kagak laku disana hihihi.

Nah, hal pertama yang aku cari adalah simcard! Menurut riset yang udah aku lakukan, simcard yang bagus buat para traveler itu yang merk nya Globe. Kebetulan nih, di airport ada, tapi pas aku samperin... Buset, harganya mahal banget! Mereka jual 1000 PHP atau sekitar 273 ribu rupiah buat 17 GB, free social media, dan aktif selama 30 hari. Ya kalo aku lama di Phillipines sih kagak masalah ya, lha ini cuma 5 hari doang masak ku harus merogoh 300ribu buat internet? Padahal kalo di Indonesia itu jatah kuota 5 bulan wkwkwk. Emang dasar perhitungan sih akunya. Akhirnya aku mengurungkan niat beli simcard di bandara dan berniat buat beli di kota aja. Akhirnya aku download map offline biar aku kagak nyasar buat menuju ke kota. Sekarang saatnya kita menuju kota!

Sebenarnya ada banyak cara untuk mencapai kota. Tergantung tujuan kita mau kemana. Kemarin aku pake Airport Loop Bus yang harganya cukup murah cuma 20 PHP. Cara menemukan bus ini cukup mudah. Ketika sudah turun dari eskalator, kita langsung melihat ada pintu keluar yang disebelahnya ada money changer. Keluar aja dari pintu itu nanti di depan kita bisa langsung ngeliat ada bus warna putih dan ada tulisan Airport Loop Bus. Airport Loop Bus ini bisa digunakan apabila kita mau transfer antar terminal di bandara. Kalo mau ke kota cari aja yang jurusan Pasay Rotanda. Di dekat bus sudah ada papan petunjuk bus itu jurusan kemana. Tapi kalo ragu, tanya aja sama petugas yang ada di dekat bus mana bus yang ke jurusan Pasay Rotanda. Tenang aja, masyarakat Philippines kebanyakan fasih berbahasa Inggris termasuk petugas Airport Loop Bus itu.

Ini Airport Loop Bus pas udah berenti di terminal EDSA

Tapi, kalo barang bawaan cukup banyak, aku saranin mending pesen grab aja, karena Airport Loop Bus ini sempit banget dan desak-desakan juga. Kalo cuma bawa backpack sih gak masalah, tapi kalo banyak barang bawaannya dijamin pasti ribet banget! Sebelum aku naik bus, ternyata ada stan Globe yang lain dan di sana ditulis bisa ngambil simcard yang sebelumnya udah di order di klook. Akhirnya ku coba buat liat di klook dan ternyata pilihan harga simcard nya ada macem-macem. Gak cuma satu doang kayak yang di dalam airport. Harganya jauh lebih murah yaitu 190 ribu dengan kuota 8GB dan aktif selama 7 hari. Ya lumayan lah daripada harus 300 ribu banget wkwkwk. Akhirnya ku pesen deh simcard lewat klook. Ketika udah berhasil pesen, aku langsung menuju ke stand nya Globe buat ambil simcard nya dan shock lah aku ternyata ada yang jauh lebih murah lagi HAHAHAHA ! Stand Globe yang ada di luar jual simcard dengan kuota 10 GB aktif 7 hari dengan harga 500 PHP yaitu sekitar 140ribuan doang dongg !! Mau nangis gak tu rasanya wkwkwk. Tapi ya karena udah terlanjur pesen di klook ya mau bagaimana lagi. Akhirnya harus ikhlas. Hahahaha

Jadi pelajaran nih buat kalian yang mau beli simcard Globe di airport. Beli aja simcard Globe di luar, jangan di dalam airport. Setelah pintu keluar itu ternyata ada banyak stand Globe yang jual simcard dengan harga lebih murah dibandingkan dengan yang di dalam. Trus juga jangan lupa bandingin harganya dulu antara di stand, di klook, traveloka atau dimanapun. Jangan kayak saya yang buru-buru memutuskan, akhirnya apes deh wkwkwk.

Setelah beres urusan simcard, aku langsung naik ke Airport Loop Bus dan ternyata isinya Philippinos semuanyaaaaa. Kayaknya gak ada turis yang naik bus ini. Aku cuma melihat ada satu bule aja, sisanya orang lokal wkwkwk. Tapi tenang aja, kita gak akan nyasar kalo naik bus ini karena pemberhentian terakhir bus ini di EDSA. Perjalanan menuju EDSA kira-kira sekitar 30 menit. Setelah sampai di EDSA, aku langsung makan siang di McDonald. Fyi, harga McDonald di Manila lebih murah dibandingkan dengan Indonesia. Aku beli paket nasi, ayam, dengan cola harganya cuma 98PHP yaitu sekitar Rp 27.000,- aja. Murah kan? Tapi ya gitu, McDonald di Manila cenderung manis, jadi kalo mau beli ayam selalu pesan yang spicy dan jangan lupa minta ketchup atau saus. Ya meskipun masih tetep aja gak pedes wkwk tapi setidaknya ada rasa pedes-pedesnya sedikit lah wkwkwk.

Saus yang kuning itu namanya gravy. Di lidahku sih rasanya macem bumbu oriental bentonya KFC wkwk. Kalo mau minta sambel, harus minta di kasir, kalo gak minta gak di kasih.

Oya, tata cara makan fast food di Manila berbeda dengan di Indonesia. Kalo di Indonesia kita terbiasa makan menggunakan tangan. Kalo di Manila kita akan diberi sendok dan garpu meskipun kita pesan nasi ayam. Masyarakat Manila memang terbiasa makan menggunakan sendok dan garpu dengan alasan kebersihan, jadi aku berusaha makan fast food menggunakan sendok dan garpu juga meskipun rasanya tangan ini gatel banget pengen langsung megang tu ayam wkwkwk.

Selesai makan di McDonald, aku langsung cari stasiun LRT-1. Oya, Manila mempunyai beberapa pilihan transportasi umum. Ada MRT, LRT-1, LRT-2, ada juga kapal ferry dan ada juga jeepney. Untuk map train dan ferry nya aku kasih gambar di bawah yaa.

Klik dan save aja kalo kalian butuh!

Jadi dari EDSA, aku mau langsung ke hotel. Hotelku untuk 2 hari kedepannya adalah Go Hotels Ermita. Aku pilih hotel itu karena letaknya lumayan dekat dengan beberapa tujuanku nanti malam dan esok hari. Harga semalamnya Rp 350.000,- aku booking via traveloka. Jangan lupa tambahin kode voucher kalo lagi ada promo di traveloka. Oya, kamar ini bisa diisi 2 orang, jadi kalo kalian liburan berdua bisa ke hotel ini, lumayan irit kan kalo dibagi dua per orangnya cuma Rp 175.000,-. Untuk fasilitas hotel ini gak terlalu banyak memberikan fasilitas bahkan breakfast pun gak ada. Tapi alasanku memilih hotel ini karena lokasinya cukup strategis aja.

Nah, sekarang masalahnya adalah daerah EDSA ini semrawutnya amit-amit. Awalnya kupikir EDSA ini macam KL Sentral lah ya, jadi kayak pusat transportasi gitu yang terintregasi di satu gedung. Jadi kita sebagai turis kagak bingung kalo mau kemana-mana dan papan petunjuknya jelas. Lha ini???? Memang sih EDSA itu kalo di Manila sebagai pusat berkumpulnya berbagai macam transportasi, tapi lokasinya gak satu gedung macam KL Sentral. Airport Loop Bus itu turun di terminal bus EDSA. Nah, kalo mau ke LRT-1 atau MRT, kita harus naik tangga yang lokasinya di depan McD tempat aku beli makan tadi. Nanti kalo udah naik ke atas bakal nemuin dua jalan. Sebelah kanan itu ke MRT, sebelah kiri ke LRT. Jadi kalo nanti kalian lihat ada antrian di sebelah kanan, itu antrian buat MRT. Bingung? Percayalah kalian pasti akan bingung nantinya karena aku sendiri pun bingung dan nyasar wkwkwkwk. Harus tanya orang dulu kemana arahnya kalo mau naik LRT-1 ke arah United Nations. Mana harus naik turun tangga lagi wkwk. Pokoknya first impression ku terhadap Manila jelek banget waktu itu. Ya wajar sih kalo orang-orang bilang Manila itu gak beda jauh sama Jakarta, karena memang semrawut itu.

Pemandangan Malate dari atas jembatan dekat EDSA


Oya, kalo memang mau keliling Manila pake train, aku saranin buat beli beep card. Beep card ini sejenis kayak Ezlink kalo di Singapore atau e-money kalo di Indonesia, jadi beep card ini bisa digunain buat naik train sama bus. Soalnya kalo mau beli tiket ketengan itu antrinyaaaaa amit-amit. Daripada ngabisin waktu buat ngantri, mending beli beep card aja. Cukup murah kok, harganya 100 PHP dan udah dapet saldo 80 PHP. Tenang, train di Manila itu terhitung masih murah. Paling cuma 3000 rupiah doang. Beneran kagak becanda, cuma 3000 an doang wkwk. Tapi ya begitulah wkwk. Kalo dibandingin sama negara lain, disini train nya kayak train jaman old gitu dengan fasilitas stasiunnya yang menurut ku jauuuuuhhh banget dari kata rapi dan memuaskan. Dan naik train di Manila itu kudu ekstra sabar. Tenanggg, kalo kalian ahli dalam hal menyerobot antrian, kalian bisa gunain ilmu kalian disini. Karena disini ketika train datang, orang-orang gak peduli, yang penting masuk aja, mau desek-desekan kek, mau posisimu dikit lagi bakal kecepit pintu kek, gak akan ada yang peduli yang penting bisa masuk. Mau nunggu train berikutnya aja biar sepi? HAHAHA Jangan harap yaaa karena train di Manila itu gak ada sepinya.

Akhirnya aku naik LRT-1 dari EDSA menuju Pedro Gil. Pedro Gil ini stasiun yang paling deket dengan Go Hotels Ermita. Turun di Pedro Gil, langsung aku dihadapkan dengan lalu lintas Manila yang super duper semrawut. Macet dimana-mana, klakson sana-sini, astagaaa, gila banget pokoknya. Akhirnya karena gak tahan dengan semua ini, aku pesen Grab buat ke hotel. Sebenernya sih deket aja kalo mau ke hotel, cuma karena lagi gak mood ngeliat kondisi jalanan yang semrawut, jadi gak ada gairah buat jalan ke hotel wkwk. Harga grab yang aku dapet 100 PHP, itu harga high fare, ya aku maklumin aja sih karena emang lagi macet banget. Aku nunggu grab aja ada kali setengah jam gara-gara grab ku sendiri juga kena macet. Naik grab di Manila itu enak, sama aja kayak naik grab di Indonesia, gak terlalu ribet apalagi orang-orang sini pinter bahasa inggrisnya jadi ya gak ada hambatan. Yang jadi penghambat ya cuma macetnya aja wkwkwk.

Sampai di hotel, ku langsung check in dan langsung tidur hahaha. Harap maklum, sebelum ke Manila, aku baru pulang dari Solo dan sebelumnya dari Jogja juga, jadi agak tepar badan ini wkwk. Lumayan lama juga aku tepar, trus pas malem karena laper, baru deh keluar kandang hahaha.

Go Hotels Ermita ini deket sama mall Robinson, tapi sayangnya mall ini tutup jam 9 malem. IYA JAM SEMBILAN MALAM BAYANGIN !! Setengah 9 aja udah banyak toko yang tutup dan mall udah siap-siap di tutup. Astagaa, aku berasa lagi di Madiun. Bahkan lebih parah dari Madiun. Di Madiun aja mall tutup jam 10, lha ini malah jam 9 malem. Niat hati mau keliling mall pun batal karena udah kemaleman. Bukan cuma mall aja, banyak toko-toko yang di pinggir jalan juga udah pada tutup. Karena udah hopeless akibat kemaleman, akhirnya makan McD lagi wkwkwk. Selesai makan, aku jalan kaki ke Manila Baywalk, jaraknya cuma sekilo doang. Kalo diliat di google sih, Manila Baywalk ini bagus banget, kita bisa duduk-duduk santai trus juga bisa liat city light juga, meskipun gak dari atas sih. Jadi, sebagai orang yang cinta mati sama city light, dengan semangat 45 aku berjalan ke Manila Baywalk. Dan setelah sampai sana............

Kriikkkkkkk
Ekspektasi pun berbanding terbalik dengan realita. Gak ada tu pemandangan kayak di google dimana kita bisa duduk di pinggir ngeliatin lautan trus ditambah kelap-kelip lampu dari gedung-gedung tinggi Manila. Adanya cuma kegelapan, sampah, beberapa homeless yang bersiap-siap tidur di sana. Bau karena sampah berceceran dimana-mana dan gak keurus. Karena merasa gak ada yang bisa diliat, akhirnya ku jalan kaki menuju hotel sambil berharap ada yang bisa diliat nanti sepanjang perjalanan. Tapi ternyata, gak ada hahahaha. Akhirnya ya balik hotel deh. Oh iya, lagi pula lagi ada badai waktu itu. Anginnya seriusan kenceng banget, aku aja berasa kayak mau terbang kebawa angin gitu. Manila emang sering banget badai apalagi di bulan-bulan Agustus. That's why aku gak lanjut ke daerah kepulauannya Philippines, karena percuma juga kalo pas sering badai ini dateng ke sana. Jadi mungkin, next time perlu ke Philippines lagi hihihi.

Jalanan di Malate, dekat dengan Manila Baywalk

Inilah Malate! Salah satu bagian dari kota Manila yang dianggap horror oleh kebanyakan traveler. Gimana enggak? Tata kota yang super duper semrawut, berasa kayak old Jakarta aja. Debu dimana-mana, macetnya amit amit banget, klakson sepanjang waktu, sampah yang berceceran di beberapa tempat, saluran air yang kurang memadai sehingga membuat air got keluar ke jalanan, gelandangan dimana-mana, kota yang akan jadi kota mati di atas jam 9 malam. Di beberapa tempat di Malate memang dikenal sebagai red district di mana isinya diskotik dan sejenisnya. Tapi sepertinya kalo urusan diskotik, masih terkenal di Thailand dibandingkan di Manila. Jarang juga ada traveler yang merekomendasikan "dunia malam" nya Malate. Karena memang suasana Malate malam hari itu sedikit menyeramkan apalagi kalo kalian mau jalan-jalan sendirian. Karena apa? Ya karena sepi, kendaraan udah jarang banget yang lewat.

Baru setengah hari di Manila, udah banyak banget surprise yang aku dapatkan dari kota ini. Berbeda seperti negara-negara lainnya yang bikin aku terkagum-kagum akan kecanggihan mereka masing-masing, kota ini justru berhasil bikin mood aku up and down ketika baru aja menginjakkan kaki di sini. Tapi gak masalah, justru di sini aku disadarkan kalo traveling itu gak melulu harus enak, gak melulu harus melihat sesuatu yang spektakuler atau sesuatu yang membuat kita terkagum-kagum. Manila justru mengajarkan aku untuk mengubah cara pandang aku terhadap traveling. Manila mengajarkan aku untuk lebih keras lagi beradaptasi dengan cepat di situasi yang membuat aku gak nyaman. Manila, yang sudah memberikan first impression kurang baik kepadaku, membuatku semakin tertantang untuk menemukan hal yang menarik di sini. Oke, mari kita lihat apa yang besok aku temukan di Manila yaa. See you!
Share:
Read More

Dear Indonesia, I Love You!

"For all the passenger, welcome to Indonesia and for all Indonesian, welcome home!" - flight attendant

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai, engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan

(Tanah Airku-Ibu Sud)


Ada rasa yang berbeda ketika aku mulai berani melangkahkan kaki lebih jauh. Rasa yang sebelumnya gak pernah sama sekali aku rasakan dan bahkan gak pernah terpikir akan merasakan hal tersebut. Dulu aku muak dengan negeri ini. Malas dengan segala keributannya, kebijakan anehnya, atau dengan problematika yang seolah-olah tidak pernah ketemu pemecahannya. Perlahan, dulu aku mulai hobi membandingkan negara ini dengan negara lain dan tentu saja aku lebih senang membela negara lain daripada negaraku sendiri. Ya, rasa ingin pindah kewarganegaraan saat itu luar biasa besarnya di hati dan pikiranku. Tapi, itu dulu.

Pertama kali aku sadar bahwa ternyata aku bisa peduli dengan negara ini adalah ketika aku mulai ikut beberapa kongres baik tingkat nasional maupun internasional. Mulanya, aku masih ikut yang tingkat nasional. Tapi justru di sini aku mulai tertampar. Duduk dan berbagi pemikiran oleh delegasi-delegasi dari beberapa kota di Indonesia membuat aku tau kualitas anak bangsa ini seperti apa, tentang apa yang mereka pikirkan untuk diri sendiri, lingkungan, dan negara. Tentang bagaimana mereka membuat sebuah peta pemikiran mau dibawa kemana negara ini kedepannya. Salut! Itu satu kata yang terlintas dikepalaku. Ada banyak sekali pemikiran-pemikiran baru yang aku dapatkan saat itu. Susah? Tentu saja buat isi otak udangku ini, pembicaraan mereka kadang susah dicerna. Dari sana aku belajar, untuk mencapai sebuah tujuan, ada banyak hal atau faktor yang harus dipikirkan.



Bermula dari itu, aku mulai masuk ke beberapa komunitas. Dulu aku pernah masuk ke komunitas Earth Hour. Cukup terkenal bukan? Dari komunitas ini aku belajar untuk lebih mencintai SDA yang ada di bumi khususnya di negeri kita sendiri. Aku mulai memerhatikan alam disekitar. Hal kecil yang aku dapatkan dari sana adalah aku mulai tertib untuk membuang sampah  pada tempatnya. Bukannya sombong atau gimana tapi efeknya sampai saat ini adalah aku akan merasa amat sangat bersalah atau berdosa kalo aku gak buang sampah pada tempatnya. Sederhana ya? Tapi buatku itu merupakan perubahan. Selain Earth Hour, aku juga mengikuti Deaf Community, di mana aku belajar beberapa bahasa isyarat dan di sana aku bisa mengerti bahwa yang dibutuhkan oleh teman-teman tuli adalah diperlakukan seperti layaknya manusia biasa lainnya. Banyak sih komunitas lainnya, tapi udah lupa apa aja yang aku ikuti hahaha. Intinya dari komunitas-komunitas yang aku ikuti, aku mulai bisa melihat jauh lebih dalam mengenai keadaan sosial yang ada di sekitar. Aku menjadi pribadi yang jauh lebih peka dibanding sebelumnya.

Begitu pula ketika aku mengikuti kongres internasional. Tertekan? Grogi? Tentu saja. Apalagi aku mewakili negaraku, Indonesia dengan pengetahuanku yang gak seberapa dan bahasa inggris yang jeleknya amit-amit. Tetapi disitulah tantangannya. Tantangan dimana aku harus bisa mempresentasikan negaraku dengan baik entah dari penampilan, etika, apapun itu harus bisa mencerminkan Indonesia dan aku bangga memakai identitasku, Warga Negara Indonesia!



Kakiku tak berhenti sampai sana. Kakiku masih gatal untuk melangkah lebih jauh, hingga meninggalkan negeriku sendiri. Ya, seperti yang kalian tau aku memang suka traveling ke luar negeri. Banyak yang bilang aku tidak cinta negeri sendiri, ah bodo amat! Aku tidak ambil pusing dengan itu. Aku justru amat sangat mencintai negeriku sendiri ketika aku traveling keluar negeri. Aku ingat ketika aku menembus hujan badai di Jepang dengan suhu 2 derajat, itu rasanya menyiksa sekali. Jangan tanya bagaimana dinginnya hujan badai di Jepang saat itu. Baju yang sudah di double 3 ditambah jaket pun gak mempan sama sekali. Kaki dan tanganku amat sangat membeku, apalagi wajahku. Sampai-sampai untuk menggerakkan mulut aja susah banget rasanya. Saat itu aku cuma minta satu sama Tuhan, sinar matahari. Sederhana ya? Sesuatu yang amat sangat aku hindari kalo aku di Indonesia, justru aku rindukan ketika aku di Jepang. Dari sana aku belajar untuk bersyukur. Besyukur aku dilahirkan di Indonesia di mana aku bisa menikmati sinar matahari, sesuatu yang aku rindukan. Seumur-umur baru sekali itu aku bisa rindu sama matahari hahaha. Kalian udah pernah ngerasain rindu sama matahari?

Memang dengan traveling ke luar negeri aku amat sangat terkagum dengan kemajuan teknologi mereka dibandingkan dengan negeriku. Tetapi dengan traveling ke luar negeri aku jadi tau apa yang bisa kita terapkan di Indonesia, apa yang Indonesia butuhkan. Selain dari teknologi, aku juga belajar menjadi SDM yang lebih baik seperti saling membantu, belajar budaya antri, belajar menaati peraturan-peraturan yang dibuat di beberapa tempat, lebih belajar menghargai dan menghormati satu sama lain. Dan secara tidak sadar, budaya-budaya baik yang aku pelajari di luar negeri kebawa sampe sekarang bahkan kuterapkan di Indonesia. Memang sih, dengan aku saja yang menjadi lebih baik belum bisa merubah negeri ini. Tapi setidaknya, aku sudah memulai dari diriku sendiri.

Lucunya dengan traveling, aku jadi rindu sama masakan yang ada di Indonesia. Aku rindu bakso, rindu pecel, rindu ayam geprek, rindu semuanya. Ketika aku pulang dan bisa kembali merasakan makanan-makanan itu, rasanya luar biasa nikmat. Aku jadi bisa menikmati dan menghargai setiap suapan yang masuk ke dalam mulutku. Sesuatu yang gak pernah aku pikirkan bahkan aku rasakan sebelumnya. Hal yang kecil namun ternyata bisa sangat berarti.

Herannya, aku bisa merasa rindu yang amat sangat dalam dengan Indonesia ketika aku berada di luar negeri cuma untuk 2 minggu. Iya, cuma 2 minggu aja aku bisa serindu itu. Aku pernah ngerasa bahagia banget ketika aku harus kembali ke Indonesia. Aneh ya? Biasanya orang-orang sedih kalo selesai liburan. Tapi aku enggak, aku justru seneng banget bisa balik ke Indonesia. Apalagi ketika udah sampai di Indonesia trus flight attendant bilang "welcome home!" Percaya apa gak, aku nangis pas denger kalimat itu. Lebay mungkin menurut kalian, tapi memang itu yang aku rasakan.

"Merantaulah. Agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang. Engkau akan tau betapa berharganya waktu bersama keluarga. Engkau akan mengerti alasan kenapa kau harus kembali. Engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kau lalui bersama keluarga ketika pulang ke rumah. Engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu lebih jauh. Engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan. Merantaulah. Akan tumbuh cinta yang tidak pernah hadir sebelumnya. Pada kampung halamanmu, pada mereka yang engkau tinggalkan."

Pepatah di atas benar adanya. Dengan merantau, dengan melangkahkan kaki lebih jauh, mungkin sejenak kita akan merasakan kesenangan/kebebasan karena kita akan menghadapi sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kita lewati atau rasakan. Tapi, dengan pergi maka kita akan merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita rasakan terhadap apa yang kita tinggalkan dan itulah yang selama ini aku rasakan.

Mungkin cara kita mencintai Indonesia berbeda. Aku dengan caraku dan kalian dengan cara kalian sendiri. Sama halnya dengan aku lebih memilih mencintai Indonesia dengan pergi jauh meninggalkannya, sedangkan ada yang lebih memilih mencintai Indonesia dengan keliling Indonesia dan memahami Indonesia. Menurutku apapun cara yang kita pilih untuk mencintai negeri ini tidak ada yang salah. Selagi tujuan kita sama, maka lakukanlah yang terbaik untuk negeri kita. Gak akan ada ruginya kita melakukan yang terbaik buat negeri ini, justru akan ada rasa bangga kita bisa memajukan negeri ini, tanah kelahiran kita sendiri, Indonesia.
Share:
Read More